Thursday, March 15, 2012

Disini

Hadirin pengguna bahasa Indonesia, di mana pun Anda berada, asal tahu saja ya: "di sini" itu kata keterangan, bukan kata penghubung.

"Disini"? Apa pula itu? Silakan Anda buka-buka lagi Kamus Besar Bahasa Indonesia atau buku pelajaran SMP/SMA yang sudah bertahun-tahun teronggok di gudang. Setahu saya bahasa Indonesia tidak mengenal kata "disini" deh.

Monday, March 05, 2012

Dimata-matai

Tahu aplikasi untuk menganalisis lalu lintas pengunjung website, nggak? Yang kayak gini nih:

Terus terang, aku nggak suka jikalau berkunjung ke sebuah website, terus ngeliat aplikasi seperti itu. Emang sih, dengan niat dan sedikit keterampilan, pemilik website bisa melacak, pengunjung situsnya berasal dari mana aja--tanpa perlu membubuhkan aplikasi itu di laman web-nya. Dengan kata lain, tiap kali kita menyambungkan diri ke dalam jaringan, sesungguhnya kita membuka diri untuk diintai orang. Apalagi dewasa ini, kita (baca: aku) justru dengan bodohnya mengumumkan lokasi dan aktivitas kita sehari-hari ke seluruh dunia via Facebook, foursquare, dsb. Secara sukarela, pula.

Tapi, bilamana pengintaian itu dilakukan secara gamblang oleh pihak lain tanpa seizinku dan hasilnya bisa diakses siapa pun, rasanya kok bikin merinding, ya? BIG BROTHER IS WATCHING YOU. Hiii!!!

Sunday, February 26, 2012

Radiohead and Philosophy: Fitter, Happier, More Deductive

Andaikan Anda sok berselera tinggi dan sok intelek, mungkin buku berjudul Radiohead and Philosophy: Fitter, Happier, More Deductive pas untuk ditenteng ke mana-mana. Tapi sumpah, aku bukan orang yang sok berselera tinggi dan sok intelek. Cuma kebetulan aja "menemukan" buku ini waktu sedang browsing Goodreads.

Jadi, buku ini berisi kumpulan esai yang membahas keterkaitan Radiohead dengan enam topik utama: filsafat, seni, industri musik, teknologi, eksistensialisme, dan posmodernisme. Nah, berhubung penulisnya lain-lain, pendekatan mereka juga beda-beda. Sebagian memosisikan diri sebagai penggemar yang mencoba menganalisis ketertarikan mereka pada Radiohead (misalnya Adam Koehler dalam "The Mutilation of Voice in 'Kid A' (Or My John Mayer Problem)" dan Lindsey Fiorelli dalam "Fitter Happier Rolling a Large Rock Up the Hill). Ada juga yang menjaga jarak, layaknya kritikus atau akademisi.

Tipe ke-2 inilah yang bikin aku sebel. Bukannya aku ingin Radiohead dipuji setinggi langit terus-terusan, hanya saja alih-alih objektif, kajian mereka justru terkesan menggurui. Salah satunya Mark Greif, dalam "Radiohead, or the Philosophy of Pop" yang mengatakan betapa "[Fake Plastic Trees]'s only salvation may have been the effect observed rather than the situation denounced: It wears you out . . ." Anda mungkin merasa begitu Pak Greif, tapi saya tidak. (Bagiku, mendengarkan "Fake Plastic Trees" mirip seperti berdiri diam di jalanan ramai. Bingung? Silakan Anda dengarkan sendiri lagu itu.)

Atau Tim Footman dalam "Hyperreally Saying Something" yang mengkritik strategi pay-what-you-want dalam perilisan In Rainbows, yang menurutnya tak lebih dari upaya promosi semata. Karena Radiohead pada akhirnya merilis album versi "koran" yang harganya udah ditentukan, mereka nggak ada bedanya dengan perusahaan rekaman yang dengan senang hati memeras kantong pelanggan. Mungkinkah si penulis mengira kami ini bego? ("Rather than feeling duped, the consumers loyally sent the (‘real’) album to the top of the charts in Britain, the United States, and beyond.") Radiohead bukan Superman. Cuma karena mereka musisi sukses, bukan berarti mereka berkewajiban menggagas revolusi dalam distribusi musik, atau membebaskan manusia fana dari kekangan hiperrealitas!

Oh iya, satu lagi yang bikin aku kurang sreg dengan buku ini. Kebanyakan esainya lebih fokus pada lirik kala membedah Radiohead. Padahal, kalau kita ngomongin musik dan efeknya terhadap pendengar, yang penting 'kan totalitasnya, bukan sekadar lirik atau melodinya doang.

Tapi, aku menikmati buku ini. Paling enggak, jadi dapat perspektif baru lah. (Contohnya: ". . . imagining a dystopia [can] have utopian connotations . . ."--mengutip Sean Burt dalam "The Impossible Utopias in 'Hail to the Thief'".) Selain itu, aku jadi tahu istilah "ajaib" seperti "Being-in-the-world". (Maklum, nggak pernah belajar yang kayak begituan di sekolah . . . meskipun aku tahu "bentonit magma" itu apa. Nggak nyambung, 'kan?)

Singkat kata, kalau Anda penggemar Radiohead, buku ini patut dibaca, minimal buat iseng. Untuk yang nggak suka atau malah nggak pernah (!) dengar Radiohead, silakan Anda khatamkan dulu kedelapan album mereka. Kalau udah beres, nanti kita ngobrol lagi.

Monday, January 30, 2012

Rezeki Nomplok

Hari ini aku menemukan uang dua ribuan di lemari. Senangnya, serasa dapat harta karun!

Saturday, January 21, 2012

Meratapi Tivi

TV-ku sekarang aneh. Orang-orang kelihatan lonjong. Kalo nonton sepakbola, skor dan nama tim di pojok kiri atas pasti nggak kelihatan. Kadang-kadang, di atas-bawah ada setrip hitam, seperti di layar bioskop.

Konon, HD-lah biang keroknya. Stasiun televisi di Indonesia rupanya sudah mulai bersiaran dengan format high definition, yang rasio panjang-lebarnya lebih besar daripada format standar. "Apalagi tahun 2014 semua siaran TV udah digital, bukan analog lagi. Ntar resolusinya lebih bagus, terus nggak kepengaruh cuaca," begitu kata adikku. Apa????

Singkat kata, aku agak nggak rela. Baru tahun kemarin beli TV baru, berhubung TV lama rusak dan nggak bisa diperbaiki lagi. Soal format siaran yang berubah dari analog ke digital, oke deh, bisa beli konverter (menurut iklan layanan masyarakat Depkominfo :p). Tapi soal rasio panjang-lebar itu, nggak biasa diapa-apain lagi, kan? Sudah terbayang, perspektifku bakal jadi nggak beres. Karena sehari-hari keseringan melihat makhluk-makhluk berbadan mulur di layar kaca, bisa-bisa aku justru mengira bahwa manusia beneran di luar sanalah yang nggak normal.

Saturday, July 02, 2011

Anak Polos

Ini kejadian lama. Tahun 2006 atau 2007 lah.

Ceritanya, waktu itu aku ke Dinas Kesehatan Bandung buat ngurusin berkas-berkas milik seorang teman. Prosedurnya standar lah: ngantri, ambil formulir + tanya-tanya sama orang Dinkes, isi formulir & melengkapi semua persyaratan.

Kira-kira dua minggu kemudian, aku balik ke Dinkes. Setelah menerima dokumen yang udah kelar dari sang petugas, aku bertanya dengan polosnya, "Berapa, Pak?"

Yang bersangkutan menjawab, "30 ribu aja."

Dan berpindahlah uang 30 ribu itu dari dompetku ke saku si Bapak Dinkes.

Kalo sekarang kupikir-pikir, ngurus hal-hal kayak gitu di Dinkes kan sebenarnya gratis. Jadi, sama artinya dengan aku ngasih gratifikasi ke si Bapak itu dong?! Tapi yang lebih konyol lagi adalah karena aku nanya ke si Bapak itu, berapa imbalan yang dia minta. Untung aja dia nggak menjawab, "Saya minta sejuta, Neng."

Sepertinya aku emang kelewat polos. Dasar bego.

Sunday, February 20, 2011

Bukan untuk Anak di Bawah Umur

Wahai para pecinta manga! Apa kalian ngeh bahwa ada yang "aneh" di Gramedia? Yup, betul sekali. Mulai pekan lalu, semua manga terbitan Level Comics ditarik dari toko-toko Gramedia!

Setelah cari info sana-sini, kudapat kabar bahwa penarikan ini disebabkan karena konten komik-komik Level. Maksudnya, komik-komik Level mengandung unsur-unsur kekerasan dsb, yang dianggap tidak pantas. Sebagai jaringan toko buku terbesar di Indonesia, barangkali Gramedia dituntut agar tidak menjual komik dengan konten semacam itu di toko-tokonya. (Siapa yang menuntut? Orang tertentu? Suatu komunitas? Entah deh.)

Jujur saja, aku jadi bingung. Jikalau Anda bukan tuna netra, maka insyaAllah Anda dapat melihat label yang terpampang jelas di setiap komik terbitan Level. "Dewasa". Artinya, komik-komik Level memang ditujukan bagi para pembaca berusia dewasa. Bukankah konten kekerasan dsb hanya akan jadi masalah apabila dibaca oleh orang yang Belum dapat membedakan baik-buruk atau orang yang kendali mentalnya masih kurang?--dengan kata lain, anak-anak dan remaja? Jadi, apa masalahnya?

Masalahnya adalah, mayoritas warga Indonesia--termasuk para orangtua--tidak menyadari bahwa komik tidaklah identik dengan kanak-kanak. Kalau kita liat di negara asalnya, manga dikelompokkan ke dalam berbagai sub-genre berdasarkan usia pembacanya. Ada manga untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Ketika manga tersebut "masuk" ke Indonesia, rating tersebut biasanya dipertahankan atau malah di-upgrade oleh penerbit. Contohnya, Mahou Sensei Negima yang di Jepang masuk kategori shonen (untuk remaja laki-laki), tapi di Indonesia diberi rating dewasa oleh penerbitnya, Level Comics (dan itu juga masih disensor, loh!). Soalnya, komik tersebut bertabur cewek-cewek yang acap kali berpakaian seksi--walau gak porno, camkan baik-baik!--sehingga dianggap kurang pantas dibaca oleh anak di bawah umur.

Kembali ke soal komik yang identik dengan bacaan anak-anak. Nah, karena orangtua tidak tahu bahwa gak semua komik boleh dibaca anak-anak, dibiarkanlah anaknya membaca apa saja. Ada juga yang mengambil pendekatan ekstrem. Komik itu bacaan sampah, jadi anaknya dilarang baca komik. Padahal, sebenarnya banyak komik yang punya pesan positif, seperti Doraemon, Yotsuba&!, Kokoni Iruyo!, dll. Namanya juga manusia, makin dilarang bawaannya makin pingin ngelanggar. Alih-alih membuka wawasan dan berdialog dengan sang anak tentang mana bacaan yang pantas dan mana yang tidak, orangtua yang kerjanya melarang malah "mendorong" anaknya untuk baca komik secara sembunyi-sembunyi. Kalau udah gini, justru susah untuk mengontrol komik macam apa yang dikonsumi si anak.

Aku yakin ada yang berargumen begini: "Komik-komik itu harus ditarik dari peredarannya di Gramedia karena isinya gak pantas!" Bicara soal gak pantas, kenapa mereka gak sekalian menuntut supaya majalah seperti Cosmopolitan atau Esquire ditarik dari peredaran? Karena keduanya jelas-jelas untuk orang dewasa ‘kan, sehingga anak di bawah umur diharapkan tidak membeli?! Nah, peringatan apa lagi yang lebih gamblang daripada tulisan "Dewasa" di sampul depan manga terbitan Level, yang menyuratkan bahwa komik tersebut bukan untuk konsumsi anak-anak? Seandainya masih ada anak-anak atau remaja yang membeli komik berlabel "Dewasa", siapa yang salah coba?! Bukan penerbit atau toko buku, kalau menurutku sih.

Singkat kata, aku berpendapat bahwa pelarangan atau penarikan buku (komik) bukanlah solusi tepat untuk masalah ini. Filter yang terbaik ya pendidikan dan pantauan dari orangtua.

Kedengaran terlalu naif dan idealis? Ah, gak juga. Biar bagaimanapun, tidak ada yang instan di dunia ini, kecuali makanan siap saji.

Thursday, February 11, 2010

Ratapan Buaya Filsuf

Beginikah
nasib buaya

Diternakkan
hanya untuk dijadikan
dompet,
tas,
sepatu

Hiks, hiks, hiks...

Sunday, November 29, 2009

Pelipur Lara

Aku sering kali kesal karena hal sepele, misalnya karena mendengar pertanyaan bodoh reporter TV. Walau begitu, ternyata hal sepele juga bisa membuatku gembira tak terkira.

Beberapa minggu lalu, terjadilah peristiwa yang menyebalkan. Saking menyebalkannya, pikiranku jadi terganggu. Bukan "terganggu" dalam arti "gak waras", tapi "membuat mood-ku jadi gak enak setiap kali teringat".

Malam itu, kusambungkan komputerku dengan internet dan berselancar. Tanpa sengaja aku menghapus pesan penting dari milis yang sebenarnya bakal ku-forward ke orang-orang. Jadi, aku terpaksa harus buka halaman mukanya Yahoo!Groups. Tapi tak disangka-sangka, aku melihat foto "menarik" di kiri bawah halaman tersebut.

Nah, foto ini sesungguhnya biasa-biasa aja, bagi orang yang tidak mengetahui. Tapi karena aku maniak, foto ini membuatku cengar-cengir sendirian kayak orang gila.

Foto tersebut menampilkan enam orang anak muda. Yang tertua mungkin baru berumur 23 tahun (dan baru-baru ini merayakan ulang tahunnya yang ke-36; Happy Birthday, Giggsy!) dan yang paling muda 18 tahun-an lah. Karena aku gak tahu apa-apa (dan gak peduli) tentang mode, aku gak tahu apakah gaya rambut mereka itu tampak jadul pisan atau enggak. Yang jelas, mereka semua terlihat sangat muda dan tak berdosa :p.

Otak manusia sangatlah luar biasa dalam membuat asosiasi. Melihat foto itu, aku jadi inget diriku dan hal-hal gak penting yang kulakukan di pertengahan '90-an. Nonton MTV (yang tayangan musiknya masih cukup variatif) sambil berleha-leha sepulang sekolah, ngantre buat beli majalah Kawanku (sekarang namanya W, ya?!) tiap hari Senin, dihukum bareng temanku Ida (yang sekarang jadi Bu Guru :D) gara-gara telat, duduk di kerimbunan pohon di Jl. Otten sambil nungguin angkot Stasiun-Gunung Batu yang gak kunjung datang, memutar ulang What's the Story Morning Glory sampai entah berapa juta kali, dan--tentu saja--menghabiskan Sabtu dan Minggu malam dengan nonton pertandingan Liga Inggris di SCTV/ANTV/Indosiar.

Sejujurnya, masa SMP-ku gak segitu menyenangkannya. Malah, banyak hal yang tidak terlalu mengenakkan. Tapi karena foto itu berasosiasi langsung dengan kenangan menyenangkan, hal-hal lain yang membahagiakan pun muncul bersamanya.

Pokoknya, selama beberapa hari berikutnya, setiap kali aku teringat hal menyebalkan itu, aku langsung memikirkan foto gak penting téa. Dan perasaanku otomatis jadi jauuuuh lebih baik. Hebat ya, hehehe :D.

Wednesday, November 04, 2009

Awaydays (Pat Holden)

Sekelompok anak muda yang bikin rusuh di stadion--kataku itu gak keren. Tapi gaya mereka emang keren: pullover/sweter + jaket parasut/jaket kulit + celana jins lurus yang mengecil di bagian bawah (kayak yang sekarang lagi mode) + sepatu Adidas putih bergaris hitam + rasa percaya diri yang luar biasa.

Apa pun alasannya--karena kelompok itu keren atau apalah--sejak melihat mereka beraksi di stadion dalam pertandingan kandang, Paul Carty (Nicky Bell) bertekad untuk bergabung dengan The Pack. Dia pun merongrong teman barunya--Mark "Elvis" Elways (Liam Boyle), seorang anggota The Pack--supaya diperbolehkan jadi bagian dari mereka. Elvis sebenernya gak setuju karena menurutnya temen-temennya brengsek (dan Carty "orang baik"). Tapi, berhubung si Carty maksa melulu, akhirnya dia dipertemukan dengan para anggota lain dan diajak ikut ke pertandingan tandang klub sepak bola yang mereka dukung.

Meskipun sempat dianggap kacangan oleh anggota-anggota yang lain, Carty akhirnya mendapatkan rasa hormat mereka waktu dia dengan berani menerobos barikade polisi dan menyilet seorang anggota firm tandingan (walau sebelumnya dia ditendangin rame-rame sih). Sementara Carty merasa makin nyaman dan semakin diterima dalam The Pack, Elvis justru kian mengkhawatirkannya dan mendesaknya untuk pergi.

Nah, sedikit informasi buat yang gak tahu apa itu firm. Firm adalah kelompok suporter sepak bola yang militan. Mereka gak segan-segan berkelahi, merusak tempat umum, atau bahkan "menghabisi" suporter tim lawan. (Gak percaya? Coba tengok kasus kerusuhan saat Liverpool melawan AC Milan di Final Piala Champions Eropa 1985 di stadion Heysel, Belgia, yang menewaskan 39 orang. Dan itu baru kasus yang paling terkenal aja.) Biasanya firm punya struktur organisasi yang lumayan rapi. Mereka bahkan punya "cabang" khusus untuk remaja/anak-anak di bawah umur (dulu sih gitu, tapi gak tahu sekarang). Bayangkan Bonek, tapi terorganisir.

Yang menarik adalah, walaupun Awaydays berkisah tentang sekelompok pendukung tim sepak bola, pertandingan sepak bola sama sekali gak ditampilkan di film ini. Sepertinya aku tahu kenapa. Kendati keberadaan firm dan hooliganism gak bisa dilepaskan dari sepak bola, bukan fanatisme semata yang mendorong orang-orang untuk melakukan kekerasan. Ada yang ikutan karena mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu, kayakseperti Elvis dan Carty). Ada yang pingin menemukan tempat untuk melampiaskan kesadisannya, seperti si Baby (Oliver Lee)--yang belakangan ngebunuh John Godden (Stephen Graham), koordinator mereka, dan menyilet Carty untuk balas dendam karena udah dipermalukan. Jadi, sering kali motif non-sepak bolalah yang memicu tindakan brutal mereka.

Pada akhirnya, Elvis dan Carty gak memperoleh apa yang mereka inginkan. Carty menyadari bahwa meski keinginannya bergabung dengan The Pack terwujud, kenyataan gak seindah harapannya. Elvis menyadari bahwa mereka cuma segerombolan preman kejam (setelah mereka rame-rame menghajar cowok-cowok yang memperkosa adik perempuan Carty, dia bilang, "Kita seperti mereka..."), terjerumus semakin dalam ke keputusasaan dan kesepian, sampai akhirnya bunuh diri (dia masih menyempatkan diri mengakui perasaannya ke Carty--sambil teler--di gereja setelah upacara pemakaman John; mungkin dia suka Carty karena Carty-lah satu-satunya orang tempatnya bisa menceritakan isi hatinya dengan jujur).

Nongkrong bareng ama temen-temen sesama penggemar klub kesukaanmu harusnya menyenangkan, tapi dalam kasus mereka berdua, ternyata enggak. Seperti kata Elvis kepada Carty (yang mungkin mencerminkan perasaannya tentang dirinya sendiri), "Kamu datang dan pergi. Mereka (The Pack) gak bener-bener tahu siapa kamu." Dengan kata lain, para anggota firm itu bukanlah teman sejati yang mereka cari-cari.

Miscellany:
  • Stephen Graham main di Snatch sebagai Tommy si penjahat kelas teri yang lugu/agak bodoh--beda 180 derajat dengan karakter di film ini. Keren lah, Pak.
  • Waktu nonton di CCF kemaren, di antara sekelompok orang anggota United Indonesia yang ber-jersey MU, gak satu pun yang pake seragam pemain belakang. Rio Ferdinand yang terkenal aja gak ada, apalagi Gary Neville (meskipun dia kapten tim)!
  • Film rite-of-passage (perjalanan menuju kedewasaan lah, kira-kira)favoritku: War of the Buttons.

Friday, October 30, 2009

Dengarlah Nyanyian Angin (Murakami Haruki)

Inilah yang tertulis di sampul belakang Dengarlah Nyanyian Angin--Kaze no Uta o Kike--terbitan KPG: "Aku...terobsesi dengan seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri. Kekasih Aku gadis manis...tapi tak ragu-ragu menggugurkan janin...yang entah siapa ayahnya. Sobat kental Aku, Nezumi, anak hartawan tapi muak dengan kekayaan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Mereka bertiga melewatkan delapan belas hari yang tak terlupakan pada suatu musim panas...."

Sepertinya harus diralat sedikit. Pertama, si cewek bukanlah kekasih Aku. Atau paling tidak, menurutku si Aku gak menganggap cewek itu sebagai pacarnya. Kedua, kayaknya "menenggelamkan diri dalam alkohol" untuk menggambarkan kebiasaan si Nezumi (bahasa Jepang: tikus) nongkrong di bar terlalu berlebihan deh. Ketiga, dan yang paling penting, adalah "delapan belas hari tak terlupakan".

Secara logika, tentu saja delapan belas hari itu tak terlupakan, karena kalo enggak, gak mungkin si Aku mengisahkannya kan. Tapi jika benar delapan belas hari itu tak terlupakan, pertanyaannya adalah: apa sih yang begitu mengesankan pada musim panas itu sampai-sampai ia layak menyandang predikat "tak terlupakan" (kecuali pertemuan dengan cewek yang jari tangannya cuma sembilan, tapi sesudah musim panas itu dia dan Aku gak pernah ketemu lagi; perjumpaan dengan cewek itu pun gak ngasih pengaruh apa-apa dalam hidup Aku--setidaknya begitulah yang kutangkap)? Jawabannya: gak ada. Justru itulah intinya.

Tau gak, apa aja yang dikerjain si Aku selama delapan belas hari itu? Nongkrong di bar sambil minum-minum, ngobrol, dan makan kacang; jalan-jalan; dengerin radio; mengingat-ingat masa lalu. Biasa banget kan?! Waktu baca buku ini, aku ngerasa, mungkin memang itu yang ingin disampaikan Murakami-sensei. Bahwa waktu terus mengalir. Bahwa hidup kita biasa-biasa aja. Bahwa kesadaran akan hal itu terasa menyakitkan. Dsb, dsb, dsb.

Tapi, gak ada yang berubah meskipun kita menyadari bahwa hidup kita biasa aja, bahwa kita akan terus bertambah tua tanpa mencapai apa pun yang berarti dalam hidup, dst. Jadi, sebaiknya kita terima aja kondisi itu. Sebagian orang mengatasinya dengan menulis (Aku dan Nezumi menulis untuk menumpahkan sebagian kecil pemikiran yang bikin otak mereka ruwet dan untuk melapangkan hati). Sebagian orang akhirnya gak tahan dan mereka pun bunuh diri. Sebagian lagi gak menyadari apa-apa, tapi ketidaktahuan itu toh gak berpengaruh apa-apa terhadap hidup mereka. Kita semua sama saja. (hal 110)

Di sampul belakang buku, disebutkan juga bahwa novel ini mengisahkan anak-anak muda Jepang yang antikemapanan dan tidak punya gambaran ideal tentang masa depan. Dibandingkan dengan novel-novel yang sekarang sedang in--tentang anak-anak muda yang harus menempuh berbagai kesulitan sebelum akhirnya dapet beasiswa ke luar negeri/sekolah di perguruan tinggi ternama, serta masa mahasiswa mereka yang "penuh warna", dan kesuksesan mereka selepas lulus kuliah--Dengarlah Nyanyian Angin memang tampak suram dan tak berarti. Tapi, aku lebih suka cerita ini. Soalnya, suasana batinku lebih mendekati suasana batin novel ini. Mau dibilang antikemapanan, pemuda kelas menengah yang kebingungan, gak punya visi, terserah lah. Maaf aja seandainya kami tidaklah sekeren anak-anak muda "inspiratif" yang kehidupannya diceritain di novel-novel populer itu.

Thursday, October 29, 2009

Kata-kata yang Bodoh

Suatu hari, telepon bordering.

CEWEK: Dengan Mbak Reni?
AKU: Iya.
CEWEK: Saya dari toko buku Times Bandung.
AKU: Apa?
CEWEK: Saya dari toko buku Times Bandung.
AKU: Iya.
CEWEK: Mbak Reni, pesan buku Haruki Murakami? Bukunya yang ada cuma satu, South of Border, West of Sun.
AKU: Oh, jadi yang ada cuma satu doang?
....dst.

Bodoh banget kan. Udah jelas-jelas kan si Teteh itu bilang kalo di antara tiga buku yang kupesan, hanya satu yang tersedia. Terus, kenapa juga aku ngomong, "Oh, jadi yang ada cuma satu doang?"

Sekarang aku ngerti kenapa penyiar-penyiar TV acap kali menanyakan hal bodoh, misalnya: hal yang sudah dijelaskan narasumber. Ternyata, itu karena mereka gak tau gimana harus menindaklanjuti informasi yang baru aja diberikan. Akhirnya, keluarlah pernyataan/pernyataan yang tidak perlu. Seperti yang kuucapkan.

Wednesday, October 14, 2009

Obrolan tentang Identitas

Berkat kebaikan hati seorang teman, aku berkesempatan ikut ngobrol-ngobrol bareng Hari Kunzru. Padahal, acara ini khusus undangan...cenah. Makasih ya, Na. Jadi, gak enak. (Atau malah enak?! ;p)

Singkat cerita, Pak Kunzru ini teh penulis berkewarganegaraan Inggris. Ibunya orang bule Inggris dan bapaknya orang India asal Kashmir (kayak Katrina Kaif nggak sih?!). Melihat latar belakangnya, gak aneh ketika kemudian dia penasaran dengan konsep "identitas", "ras", "kemurnian", dan sebangsanya. (Tumbuh besar sebagai anak berdarah "campuran" di wilayah konservatif kota London tidaklah mudah; kayaknya sih gitu.) Dan jadilah dia pengarang yang mengeksplorasi tema seputar identitas dalam novel-novelnya.

Dan karena latar belakangnya seperti itu, wajar kalo Pak Kunzru lebih tertarik dengan identitas transnasional--sesuatu yang mempersatukan semua orang, gak peduli di mana dia tinggal, apa keyakinannya, apa warna kulitnya, dsb. Oke lah, Pak, saya mengerti maksud Anda. Kita memang beda-beda, tapi terus kenapa? Maksud Anda begitu, kan?!

Nah, aku sendiri tidak pernah gelisah gara-gara "identitas", seandainya yang dimaksud "identitas" di sini adalah label yang dilekatkan seseorang pada dirinya, penyama sekaligus pembeda. (Misalnya: saya Muslim, jadi saya sama dengan orang-orang yang shalat dan mengaji dan mengimani Allah sebagai satu-satunya ilah, tapi saya gak sama dengan orang Kristen dan Hindu dan Buddha.) Mungkin karena aku tinggal di tengah-tengah masyarakat yang relatif homogen. Mungkin karena slogan Bhinneka Tunggal Ika sudah melekat dalam pikiranku (Sunda, Jawa, Batak, Minang,Bali, Sasak, Banjar, Dayak, dsb gak jadi soal). Mungkin karena aku bukan anggota kelompok minoritas yang terus-menerus dipertanyakan ke-Indonesia-annya.

Yang lebih mengusik pikiranku adalah "identitas personal" , kalo yang seperti itu memang ada. Siapa aku sebenarnya? Apa yang membuatku unik sebagai individu? Apa yang membedakanku dengan manusia-manusia lain? Tahu kan, kayak gen atau sidik jari atau sidik retina, tapi lebih menyeluruh. Harap dimaklumi, aku memang individualis (baca: antonim "kolektivis", bukan antonim "egois"). Aku bener-bener ngeri waktu membayangkan diriku sebagai makhluk yang keberadaannya di dunia ini tergantikan.

Ngalor-ngidul sepanjang ini, apa sih maksudku? Entah ya. Tapi, inilah yang kuyakini. Identitas adalah sesuatu yang kita pilih, titik. Dan manusia senantiasa tercabik-cabik antara keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok dan keinginan untuk menjadi istimewa. Gitu deh.

Wednesday, September 30, 2009

A History of the World in 10.5 Chapters (Julian Barnes)

Judul buku ini--A History of the World in 10.5 Chapters--mungkin akan membuat orang terkecoh. Mendengar kata "sejarah", yang terpikirkan biasanya adalah peperangan, penaklukan dan penindasan, revolusi, penguasa egomaniak, dan semacamnya. Kalo emang yang itu yang kamu mau, silakan cari buku lain.

Dalam novel yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Sejarah Dunia dalam 10,5 Bab ini (diterbitkan KPG dan diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Arif Bagus Prasetyo), cerita yang dikisahkan dalam buku hanyalah "kejadian sehari-hari". "Peristiwa-peristiwa dahsyat" sepanjang perjalanan waktu--banjir besar, gempa, kecelakaan kapal, pembajakan, kematian, dll--kemudian sekadar menjadi latar belakang, bukan fokus cerita. Meskipun gak lumrah, hal ini patut direnungkan. Coba aja pikir, ketika kita menilik "Sejarah", kenapa yang dikedepankan selalu "sejarah kekuasaan"? Selalu dinasti ini digulingkan oleh dinasti itu, atau kerajaan ini digantikan oleh kekaisaran ini digantikan oleh kesultanan ini, dsb. Kenapa bukan "sejarah seni" atau "sejarah ilmu" misalnya? Nah, buku ini mendobrak pakem "Sejarah" sebagai "sejarah kekuasaan".

Para pelakon dalam buku ini pun "cuma" orang-orang biasa. Maaf, maksudku makhluk-makhluk biasa--mengingat sekawanan ulat kayu juga tampil sebagai pelakon. Ulat kayu mengisahkan derita para hewan di Bahtera Nuh dalam bab 1, "Penumpang Gelap", dan menghadapi tuntutan ekskomunikasi dari Gereja Katolik pada bab 3, "Perang Agama". Barnes seakan-akan hendak menegaskan, lagi, bahwa kita semua adalah pelaku sejarah. Yang kisah hidupnya layak dituturkan bukan hanya raja, kaisar, sultan, panglima, dan pemimpin pemberontakan. Siapa tahu rakyat jelata lebih patut diteladani daripada tokoh-tokoh berkuasa dan berpengaruh itu.

Tapi, jangan salah paham. Barnes tidak semata-mata menggugat "sejarah" karena dia ingin menggugat "Sejarah". Sebetulnya "kesadaran kolektiflah" yang digugatnya, kayaknya sih. Ini tercermin dalam "Parentesis" (bab 8,5). Dia mengoceh panjang lebar tentang cinta, dan bagaimana pada akhirnya itulah yang harus kita percayai--juga kehendak bebas dan kebenaran objektif. (Tapi, kenapa harus cinta? Mungkin karena "cinta" lebih mudah dipahami daripada "kehendak bebas" dan "kebenaran objektif"? Mungkin bagi Barnes "cinta" cuma alat untuk menyampaikan maksudnya, sama seperti "Sejarah"?)

Kalau disimpulkan, kira-kira inilah inti kisahnya: Pada akhirnya, kita sendirilah yang mesti memutuskan apa yang kita yakini, karena memang kita memilih untuk meyakininya, bukan karena orang-orang lain berpendapat itulah yang benar dan itulah yang semestinya kita yakini (intinya mah, hindari taklid buta). Mengutip kata-kata Pak Amir, dosenku semasa kuliah, "Sesuatu yang salah, walaupun diyakini kebenarannya oleh semua orang di dunia, tetap saja salah."

Catatan: Cuma pingin memperjelas. "Sejarah" (dengan "S" besar) berarti sejarah kekuasaan, sejarah yang lazimnya kita pahami, sejarah yang diajarkan secara akademik. "sejarah" (dengan "s" kecil) berarti perjalanan hidup setiap makhluk--biasanya manusia, tapi tidak selalu--secara individual atau keseluruhan, di dunia ini.

Saturday, September 26, 2009

The Winner Stands Alone (Paulo Coelho)

Bacalah The Winner Stands Alone, niscaya kita gak bakal memandang kaum elit yang banyak duit, berkuasa, dan terkenal seperti dulu lagi. Aku memang percaya bahwa uang, kekuasaan, dan ketenaran bukan jaminan kebahagiaan. Ketiganya pun bukan hal terpenting di dunia. Tapi--mungkin sama kayak sebagian besar orang--aku meyakini bahwa barang siapa memiliki salah satu saja dari ketiganya, kalo gak bisa semuanya, dia bebas ngapain aja. Tapi ternyata, ketiganya bisa mengurung seseorang, sama seperti kemiskinan absolut. Atau begitulah kata Paulo Coelho.

Kejadian-kejadian dalam novel ini berlangsung dalam waktu satu hari saja. Berbagai macam orang dari berbagai belahan dunia--aktor dan aktris, sutradara, produser, perancang busana, model, pengusaha, polisi--dipersatukan oleh ajang akbar yang disebut Festival Film Cannes. Mereka juga dipersatukan oleh hal-hal yang sama: kekayaan, kekuasaan, ketenaran. Sebagian tokoh udah kaya/berkuasa/tenar, yang lainnya mendambakan kekayaan/kekuasaan/ketenaran.

Nah, dalam novel ini kita dihadapkan kepada suatu paradoks. Atau mungkin bukan paradoks, tapi perbedaan antara harapan dan kenyataan.

Orang-orang biasa--seorang aktris medioker, sutradara muda, dan polisi yang bosan, misalnya--berharap bisa tersohor karena memang itu cita-citanya, karena pingin mengubah masyarakat, karena merasa layaklah dirinya mendapat apresiasi sesekali (siapa tau bisa naik jabatan). Seakan-akan mereka akan puas dan bergembira ria setelah harapan ini terwujud.

Nyatanya, para anggota Superclass--orang-orang kaya/berkuasa/tenar itu-- gak memperoleh kepuasan dari situasi mereka. Di saat mereka udah punya segalanya, mereka malah waswas karena gak mau kehilangan kekayaan/kekuasaan/ketenaran mereka. Maka muncullah orang-orang gila kerja dan manusia-manusia pecandu operasi plastik/suntik Botox/sebangsanya dan pengidap depresi. Pencapaian mereka akhirnya menjadi pengekang, bukan sekadar alat untuk mencapai kebebasan, apalagi sumber kebahagiaan.

Selain memaparkan kepalsuan kaum elit, novel ini juga mengemukakan satu topik yang sering muncul dalam karya-karya Coelho: impian, dan seberapa jauh kita rela berkorban demi mencapainya. Demi tujuan yang (menurut kita) baik dan mulia, layakkah kita melakukan apa saja? Bohong, misalnya? Atau mungkin meniduri produser film? Atau jadi simpanan ama om-om atau tante-tante kaya? Bagaimana dengan membunuh?

Novel ini emang gak menggugah perasaanku sedahsyat The Alchemist, tapi kisahnya cukup "mengena". Kalo aja para manusia penggila selebritis yang jumlahnya semakin banyak di Indonesia membacanya, mungkin mereka bakal berpikir ulang soal kegandrungan mereka yang gak realistis itu. Tapi kayaknya sih mereka lebih suka nonton TV daripada baca buku....

Sunday, September 20, 2009

Maafkan Saya

Aku pengguna produk bajakan yang nyaris gak pernah merasa bersalah. Alasannya macem-macem. Yang pertama, karena aku sebetulnya gak suka-suka banget ama seniman yang karya bajakannya kumanfaatkan itu. Terdengar kurang ajar? Memang, tapi begitulah kenyataannya. Tapi aku hampir gak pernah ngebajak karya musisi/sineas Indonesia loh. Kecuali Mbah Surip. Dan The PanDal. Ampun....

Alasan kedua, karena karya yang kubajak gak tersedia versi legalnya di Indonesia. Apa Cardcaptor Sakura Character Songbook ada di Indonesia? Bagaimana dengan seri CODE GEASS: Hangyaku no Lelouch? Atau album-albumnya Elbow, pernah denger? (Aku pernah ngirim e-mail ke Indosemar buat nanyain apakah mereka berencana ngerilis album Elbow di Indonesia. Sesuai dugaan, e-mail-ku sama sekali gak ditanggepin.) Selain itu, susah juga nyari album-album atau buku-buku jadul di sini. Misalnya aja sebelum nyari file MP3 Tears for Fears di internet, aku nyempetin diri dulu buat cari albumnya di website Disctarra. Ternyata yang kucari gak ada. Yasud.

Alasan ketiga, karena aku ngembat versi digital (bajakan) dari album yang udah kupunya. Aku punya semua full album Radiohead (dan aku SUKA BANGET Radiohead!). Seiring dengan semakin reyotnya tape deck-ku, muncullah keinginan untuk dapetin versi digital lagu-lagu di album mereka supaya bisa didengerin di komputer atau apa lah. Tentu saja, kalo yang kupunya adalah CD, aku bisa dengerin album mereka di komputer atau ngubah track-track di dalamnya ke format MP3 atau WMA. Tapi karena aku cuma punya kaset, ya gak bisa lah. Dan itulah sebabnya aku nyari lagu-lagu mereka (yang dibajak) di internet dan tidak merasa bersalah.

Tapi sekarang, aku merasa bersalah. Pada Neil Gaiman, Murakami Haruki, dan Natsume Soseki. Karena aku sangat suka karya mereka, dan sebagai konsekuensinya, sangat menghormati mereka sebagai seniman, rasanya gak enak deh, baca bajakan. Hampir semua buku Gaiman dan Murakami yang diterbitin di Indonesia udah kubaca (dalam format e-book bajakan). Dan yang belum kubaca, aku gak terlalu berminat untuk memilikinya, jadi asa sayang aja kalo dibeli. Coraline buat anak-anak. Stardust, per-lope-an pisan jigana mah, saya jadi gak minat. Aku masih menunggu-nunggu Sandman, graphic novel karya kolaborasi Pak Gaiman dengan seseorang (entah siapa). Kalo buku ini diterbitin, aku pasti beli deh.

Sekarang soal Murakami-sensei. Bukunya yang diterbitin di sini ada tiga: Normeei no Mori (Norwegian Wood), Umibe no Kafuka (Kafka on the Shore) dan Hear the Wind Sing (maaf, gak tau judul bahasa Jepangnya; tapi mungkin ada "Kaze no Uta"-nya). Aku udah baca dua yang pertama, tapi yang dua itu bukan buku favoritku. Dan karena Hear the Wind Sing adalah karya pertamanya sehingga kemungkinan relatif normal, aku juga gak pingin beli.

Kalo Natsume-sensei, baru Botchan yang diterbitin di sini dan aku udah baca. Dan walaupun itu novel yang menarik (dan narasinya bisa dibilang "lucu"), aku lebih tertarik untuk memiliki novel-novelnya yang lebih baru, yang lebih mendalam, yang lebih dahsyat (kayak Kokoro, gitu deh). Sayang sekali sekarang di Gramed Merdeka gak ada buku-buku Jepang murah meriah terbitan Tuttle lagi. Aku sempet beli beberapa buku di sana sih, tapi karya Natsume-sensei gak termasuk di antaranya.

Pak Gaiman, kalaupun saya ingin beli buku Anda, di Gramed di Bandung sekarang udah gak ada lagi.

Murakami-sensei, terakhir kali ke Times BIP sih saya ngeliat ada beberapa buku Anda. Rencananya sih emang mau beli. Moga-moga saya punya ketetapan hati dan uang untuk melakukannya dalam waktu dekat ini.

Natsume-sensei, seandainya saya bisa menemukan buku Anda di suatu tempat, pasti saya bakal beli; masalahnya, gak ada sih.

Tapi untuk sementara ini, maafkanlah saya, Bapak-bapak. Maafkan saya karena sudah kurang ajar, membaca buku Anda yang dibajak. Semoga Anda mengampuni.

Catatan: Sekarang izinkan aku berpromosi sedikit. Untuk karya Neil Gaiman, kusarankan baca Good Omens--bodor pisan. Atau kalo pingin baca yang udah ada terjemahannya, silakan cicipi Anansi Boys. Murakami Haruki: Hard-Boiled Wonderland and the End of the World--perpaduan sci-fi dan fantasi yang agak "aneh" (dan filosofis tentunya), tapi gak seajaib karya-karyanya yang lebih baru, bagus lah buat pemanasan. Sayang sekali aku baru baca dua karya Natsume Soseki, jadi belum cukup banyak untuk bisa ngasih referensi. Tapi dua-duanya--Botchan dan Kokoro--bagus kok, meskipun tingkat kompleksitasnya berbeda. Dan Radiohead, saranku sama dengan semua pencinta musik di dunia lah: OK Computer.

Thursday, August 27, 2009

Kokoro (Natsume Soseki)

Sebenernya apa sih yang diceritakan dalam Kokoro karya Natsume Soseki ini? Aku bisa aja ngasih garis besarnya seperti ini: Bagian 1 (Sensei dan Aku) tentang perjumpaan dan interaksi "aku"--seorang pemuda yang namanya gak pernah disebut sepanjang cerita--dengan pria yang dipanggilnya "Sensei". Pembawaan Sensei yang penuh teka-teki--sikapnya yang menarik diri dan menolak untuk "menceburkan diri" ke dunia, sikapnya yang sinis terhadap karakter manusia, kemurungannya--justru bikin "aku" makin penasaran padanya; Bagian 2 (Orang Tuaku dan Aku) tentang "aku" di kampung halamannya sesudah lulus kuliah di Tokyo--kecemasannya karena kesehatan ayahnya yang memburuk, desakan orang tuanya untuk cepat-cepat cari kerjaan yang bergengsi, dan hal-hal lain yang dirasakannya selama itu; Bagian 3 (Sensei dan Pengakuannya) berisi cerita Sensei tentang kehidupannya, termasuk peristiwa yang menyebabkan dirinya berubah, dan juga alasan yang melatarbelakangi keputusannya bunuh diri. Sama seperti Bagian 1 dan 2, Bagian 3 juga diceritakan lewat sudut pandang orang pertama.

Tapi, ringkasan di atas (atau ringkasan mana pun) gak bisa mengungkapkan apa inti Kokoro sebenarnya. Dan tentu saja, pemahamanku mengenai kisah tersebut mungkin berbeda sekali dengan apa yang ingin disampaikan Natsume-sensei. Jadi, anggap aja paparanku di bawah ini sebagai "kesan" yang ditangkap oleh seorang pembaca semata. Apa yang kuutarakan benar-benar gak mencukupi untuk menjawab pertanyaan "Sebenernya apa sih yang diceritakan dalam Kokoro karya Natsume Soseki ini?".

Mulai dari judulnya. "Kokoro" itu dalam bahasa Jepang bisa berarti "jiwa" atau "hati" atau "esensi" atau "ruh" (mungkin mirip "geist" dalam bahasa Jerman?). Jadi, mungkin saja yang ingin dikemukakan dalam novel ini adalah "jiwa manusia". Atau setidaknya, pandangan para tokoh tentang jiwa manusia (dalam hal ini, jiwa si tokoh itu sendiri).

Sensei--yang memandang umat manusia dengan rasa benci--beranggapan bahwa tidak ada manusia yang "baik" atau "jahat". Kibas-kibaskan uang, atau harga diri, atau apa saja yang sepertinya penting, di hadapan orang yang "baik" dan dia bisa berubah jadi "jahat" seketika. (Dia gak serta merta berpandangan seperti ini--pengalaman hidupnyalah yang membuatnya berpendapat demikian.) Membenci umat manusia berarti membenci dirinya sendiri, dan inilah yang membuat Sensei menjalani kehidupan tanpa kebahagiaan, bagaikan mayat hidup. ("Kami semestinya bahagia," katanya kepada "aku".)

"K"--seorang teman yang kematiannya berdampak sangat besar bagi kehidupan Sensei--berpendapat bahwa manusia seharusnya hidup demi mengejar "jalan yang lurus" ("the true way", menurut terjemahan bahasa Inggrisnya), meskipun apa "jalan yang lurus" itu, kayaknya dia gak tahu persis. Seminimal-minimal mungkin, seseorang haruslah punya keteguhan hati. Tersadar bahwa dirinya gak punya keteguhan hati yang diinginkannya (saat dia malah jatuh cinta pada anak perempuan ibu kosnya), dia pun terguncang dan akhirnya memutuskan bunuh diri.

Sudut pandang "aku" mungkin gak seekstrem dan gak segamblang dua orang di atas. Tapi, kita masih bisa menangkap perasaan herannya saat dia merasa "sudah terlalu Tokyo" dan gak betah lagi tinggal di rumah, atau saat dia merasa lebih bisa "menjalin hubungan" dengan Sensei daripada dengan ayahnya sendiri--sejak kapan itu terjadi?

Mungkin juga novel ini sesungguhnya menceritakan keputusasaan yang bersemayam dalam diri manusia. Kita mungkin bisa berhubungan dengan orang lain, tapi gak peduli sedekat apa kita dengan orang lain itu, perasaan sejati kita akan senantiasa tersembunyi dari mereka. Atau seperti kata Sensei, "... aku berdiri sendirian di dunia ini, putus hubungan dengan manusia hidup manapun." Mungkin itulah maksud novel ini, esensi manusia adalah kesendirian.

Sunday, August 16, 2009

The Open Society and Its Enemies (Karl Popper)

Ini sebenernya bukan ulasan. Siapa aku, kok berani-beraninya mengulas karya Profesor Karl Raimund Popper? Mungkin suatu saat nanti, tapi untuk saat ini otakku belum nyampe tuh. Di bawah ini, aku sekadar menyebutkan beberapa hal penting yang kutangkap dari The Open Society and Its Enemies, yaitu:

  • Kebijaksanaan sama artinya dengan kerendahan hati. Orang yang sungguh-sungguh berpengetahuan sadar sesadar-sadarnya bahwa pengetahuannya cuma seupil dan bahwa dia punya keterbatasan.
  • Berpikir kritis teh kudu.
  • Berpikir rasional bisa membantu kita menemukan kebenaran, tapi bukan berarti hanya yang rasionallah yang patut dianggap sebagai hal yang bernilai.
  • Jangan mudah terkesan oleh nama besar. Buah pemikiran para tokoh tetap harus dibaca secara kritis.
  • Demokrasi semestinya tidak dianggap sebagai sesuatu yang abstrak seperti "kedaulatan rakyat". Lebih pas jika demokrasi dipandang sebagai sistem penuh keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan kritik dan koreksi, sehingga sistem itu bisa terus diperbaiki (kontras dengan sistem pemerintahan yang totalitarian).
  • Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah. Tapi, sejarah tidak boleh digunakan untuk meramal masa depan (karena ini mustahil, meskipun orang yang bilang "bisa" mengklaim bahwa metodenya ilmiah--mengkhayal tuh), apalagi dipakai sebagai pembenaran atas tindakan yang salah.
  • Mengembalikan tatanan lama atau menggagas revolusi tidak akan menjadikan kehidupan kita serta-merta lebih baik. Kita sendiri yang harus mewujudkan "kehidupan yang lebih baik" itu, walaupun hal ini memang berat dan butuh waktu lama.


Aku amat sangat merekomendasikan buku ini buat siapa pun (pas banget kalo pemuja Hegel dan Marx--yang jumlahnya di negeri ini kayaknya lumayan banyak--baca buku ini, meskipun barangkali ujung-ujungnya mereka bakal mencak-mencak). Ulasannya logis dan runtun, setiap argumen dikemukakan dengan terperinci disertai kontra argumennya (dan kontra argumennya lagi, sampai tak terbantahkan lagi deh; atau mungkin juga bisa, oleh orang yang lebih cerdas daripada aku tentunya)--bahkan orang awam sepertiku pun bisa memahaminya, kurang lebih.

Saturday, July 25, 2009

Kesusahan (Bukan) untuk Ditonton

Program-program seperti Uang Kaget, Lunas, atau Tolong mungkin tidak asing bagi para penonton televisi. Meskipun tidak termasuk tayangan yang dinilai buruk menurut hasil rating alternatif Yayasan Sains Etika dan Teknologi, toh banyak juga yang mengecam acara-acara tersebut karena dianggap menjual kemiskinan dan kesusahan orang lain. Produser boleh berkilah bahwa acara itu mereka buat karena mengingatkan bahwa masih banyak orang susah di luar sana. Tapi, tidak salah juga seandainya ada yang dengan sinis mengatakan bahwa--terlepas dari tujuan "mulia" tersebut--ujung-ujungnya pihak produserlah (rumah produksi, stasiun televisi) yang paling diuntungkan. Sementara itu, kehidupan orang-orang yang mereka "bantu" dalam acaranya tetap tidak berubah pada akhirnya.

Nah, kalau begitu, apa bedanya tindakan para produser TV itu dengan perilaku "menonton kesusahan" yang ditunjukkan orang-orang kebanyakan? Lihat saja apa yang dilakukan orang-orang ketika terjadi bencana Situ Gintung. Alih-alih datang untuk menolong para korban, banyak yang justru mampir sekadar untuk melihat-lihat lokasi kejadian. Coba pikir--layakkah itu?

"Fenomena" yang sama dapat disaksikan lagi setelah pengeboman di Hotel J. W. Marriott dan Ritz Carlton Jumat lalu. Dua orang yang terlibat proses evakuasi mengatakan mereka kesulitan membawa para korban dari TKP karena di sekitar sana banyak orang yang menonton. Dan kemarin di TV ada seorang ibu yang menyorongkan kamera digitalnya untuk memotret lobi hotel yang porak poranda. Pantaskah itu?

Yang gak kalah bikin sebel adalah aksi para wartawan foto dan kamerawan yang mengerumuni para korban saat masing-masing dipindahkan dengan kursi roda atau brankar. Waktu aku sakit demam berdarah kemarin, aku gak pingin ketemu siapa pun karena aku gak mau dilihat orang dalam keadaan loyo dan payah. Jadi, kubayangkan perasaan para korban bom pasti berkali-kali lipat lebih dahsyat daripada perasaanku. Dan di saat rapuh seperti itu, para wartawan justru mengerubungi mereka bagaikan burung pemakan bangkai. Walaupun tindakan mereka punya pembenaran karena ngejar-ngejar objek yang layak diambil gambarnya emang tugas mereka, aku toh tetap merasa geram.

Pertanyaannya, apa bedanya "eksploitasi", "menggugah kepekaan sosial masyarakat", dan "memuaskan rasa penasaran" dalam kasus di atas? Karena bagiku, rasanya kok gak ada bedanya ya?!

Catatan: Kuucapkan turut berduka cita untuk para korban dan keluarganya. Semoga arwah para korban yang tewas diterima di sisi-Nya dan mudah-mudahan mereka yang cedera segara pulih secara fisik maupun mental, aamiin. Karena MU gak jadi dateng, aku justru jadi bisa lebih bersimpati pada mereka. Serius!

Tuesday, July 07, 2009

Tampak Muda

Seiring dengan bertambahnya usiaku (mungkin), salah satu hal yang paling menyenangkan adalah ketika orang-orang mengira diriku lebih muda daripada yang sesungguhnya. Walau ini mungkin justru menunjukkan bahwa aku memang sudah semakin tua dan aku sadar akan itu. Tapi, saat berumur belasan tahun pun aku gak keberatan waktu disangka masih SMA padahal udah kuliah--padahal biasanya anak-anak seusia gitu kan sebel kalo disangka masih kecil.

Entah memang karena aku punya bakat awet muda (pinginnya sih gitu) atau karena pembawaanku, kenyataannya aku pernah beberapa kali mengalami kejadian semacam itu. Misalnya kayak gini nih:

  • Tiga tahun lalu, saat aku semester sepuluh (kebetulan aku telat lulus), salah satu temen sekelas di Filsafat Ilmu nanya ke aku, "Reni teh angkatan berapa? 2003 ya?" Seneng gak sih, disalahsangkain seperti itu? Apalagi dia kelihatan kaget waktu kubilang aku ini angkatan 2001.
  • Pas bayar tiket MU vs Indonesian All Star di 3Store minggu lalu, si petugasnya bilang, "Wah, jauh-jauh dari Cimahi?" (dia tahu rumahku di Cimahi karena ada di data registrasi pelanggan operator ponsel). Jawabku, "Gak jauh kok, rumah saya di xxx." Singkat cerita, dia kemudian bertanya, "Kuliah di Cimahi juga? Adik saya kuliah di Cimahi." Berarti,dia mengasumsikan aku masih kuliah--padahal aku kan udah lulus dua setengah tahun lalu.
  • Waktu nungguin angkot di depan BTC, lewatlah angkot Stasion-Sarijadi. Si kernetnya (aneh kan, angkot Lintas Husein ada kernetnya) melambai ke arahku--satu-satunya orang yang saat itu sedang nungguin angkot di sana--sambil ngomong, "Maranatha, Neng!" Bukan, "Sarijadi, Neng!" Kesimpulannya, tampangku kayak mahasiswa, setidak-tidaknya menurut si kernet.


  • Mohon maklum, mungkin aku sedang mengalami krisis seperempat baya sampai-sampai ngegede-gedein masalah gak penting kayak gini :D.