Friday, August 10, 2007

Tak Ada EPL Musim Ini!

Kecewa berat! Gimana enggak? Setelah bertahun-tahun dimanjakan dengan siaran English Premier League (EPL) di stasiun-stasiun TV di Indonesia--mula-mula ANTV, terus SCTV, Indosiar, dan yang terakhir TV7/Trans 7--musim kompetisi ini tampaknya EPL gak bakal bisa ditonton secara gratis di Indonesia.

Aku udah mulai ngerasa waswas minggu kemaren. Pasalnya, meskipun EPL akan segera bergulir (EPL musim ini dimulai tanggal 11 Agustus), tak ada stasiun TV yang menayangkan iklannya. Tau kan, misalnya “Liga Inggris, kompetisi terbesar sejagat segera dimulai saksikan di ...” atau “Manchester United, Chelsea, Arsenal, Liverpool; siapakah yang akan meraih mahkota juara tahun ini? Saksikan di...”--gak ada tuh iklan macam itu.

Kekhawatiranku menjadi nyata saat aku melihat iklan di Kompas, yang menyatakan bahwa EPL musim ini disiarkan di Astro. Televisi berlangganan. Dan masih tetap tidak ada stasiun lain (yang tayangannya gratisan) yang menyatakan mereka punya hak siar EPL. Cuma Astro. Televisi berlangganan.

Sialan.

Pasti di luar sana bakal ada suara-suara yang bilang, masih untung Astro mau nyiarin semua (yah, setidaknya sebagian besar) pertandingan EPL. Bandingin ama di luar negeri sana--penayangan pertandingan EPL-nya pake sistem pay per view yang biayanya jatuh lebih mahal buat pemirsa. Oke. Orang yang ngomong begitu mungkin gak nyadar bahwa pendapatan per kapita (PCI) di negara-negara yang memberlakukan sistem pay per view jauuuuuh lebih tinggi daripada PCI Indonesia tercinta. Itu sama konyolnya seperti membandingkan harga BBM di Singapura dan Indonesia.

Terbayang berapa banyak aksi yang akan kulewatkan musim ini: aksi Roy Keane sebagai pelatih, debut Hargreaves di EPL, Arsenal tanpa Henry, kepemimpinan Phil Neville di Everton (Neville rules, man!), dan seabrek lainnya. Tidak!!!!!!!

Catatan: Mohon maaf kalo ada kata-kata kasar. Gak ada maksud untuk menyumpahi siapa pun, kok.

Thursday, August 02, 2007

Nyandu Fanfiction

Spoiler Alert: Buat yang belum baca Harry Potter and the Deathly Hallows, mending jangan baca tulisan di bawah ini, deh. Ada sedikit spoiler, soalnya.

Selalu, selalu, selalu. Kali ini biang keladinya Harry Potter and the Deathly Hallows (DH).

Setiap kali aku selesai baca cerita yang seru, aku selalu merasa gak cukup. Rasanya adaaaa aja hal-hal yang belum tuntas, yang bikin aku penasaran. Dalam kasus DH: gimana nasib para tokoh yang masih hidup?; apa Hogwarts bisa segera “pulih” sebelum tahun ajaran berikutnya?; gimana keluarga Weasley mengatasi kematian Fred?; dan masih banyak lagi.

Emang sih, J. K. Rowling berencana untuk membuat ensiklopedia Harry Potter (HP) yang memaparkan kisah sampingan yang menarik, tapi gak terlalu penting untuk jalan cerita utama HP, serta kehidupan para tokoh pasca kematian Voldemort. Tapi, berhubung Rowling pingin istirahat dulu dari dunia HP, entah kapan ensiklopedia ini bakal diterbitin. Jadi, untuk saat ini, aku hanya bisa “memuaskan dahaga” dengan cara membaca fanfiction HP sebanyak-banyaknya.

Kenapa fanfic? Gampang saja (meminjam istilah Gus Dur), karena fanfic menawarkan berbagai kemungkinan--kemungkinan yang gak sempat dieksplorasi di cerita aslinya. Karena tujuanku adalah menghibur diri, aku lebih suka membaca fanfic yang menyenangkan. Aku gak mungkin nyari fanfic Snape, misalnya, karena mo digimanain juga, hidupnya tetap tragis dan gak bisa diapa-apain lagi (kecuali kalo settingnya AU, padahal aku gak terlalu suka fanfic AU).

Sekarang, aku lagi nyandu-nyandunya ama fanfic Luna/George (aku emang shipper mereka sih). Gak terlalu banyak fanfic Luna/George di luar sana, tapi jumlahnya bertambah dengan pesat setelah DH terbit. Mungkin karena “kehilangan” yang dialami oleh George, dan karakter macam Luna sepertinya cocok untuk membantu menyembuhkan kehilangannya itu.

Yang jelas, aku bakal nyandu fanfic HP terus. Entah sampai kapan. Sampai ada pengalih perhatian yang lain, kali. Dasar gila!

Friday, July 13, 2007

Lampu Padam, Pestanya Bubar

Memalukan. Semua orang Indonesia yang nonton pertandingan Korsel-Arab Saudi hari Rabu lalu pasti ngerti perasaanku. Gimana enggak? Masa lampu stadion mati di tengah-tengah pertandingan internasional? Mana yang main bukan tim Indonesia, lagi.

Aku yang nonton di TV aja kesel waktu pertandingan harus dihentikan. Bayangin, gimana perasaan orang-orang yang ada di stadion? Sebel banget, pastinya. Pelatih kedua tim melirik arlojinya berulang-ulang, orang-orang AFC ngomel ke panitia lokal, wasit nyumpah-nyumpah (si wasit yang kebetulan orang Australia ngomong, “Sh**”; aku bisa baca gerak bibirnya).

Bukannya introspeksi, panitia malah mencari-cari alasan. Ketua Panitia Lokal Piala Asia 2007 Nugraha Besoes berdalih bahwa matinya lampu disebabkan karena generator pusat kelebihan beban (Kompas, 12/7). Yang bener aja. Kalo gensetnya emang kelebihan beban, gak mungkin ada sebagian lampu yang masih menyala. Semua juga tahu. Padahal, lampu mati bukanlah satu-satunya “cacat” dalam penyelenggaraan Piala Asia di Indonesia. Masih ada kasus lain seperti kisruh penjulan tiket, sarana yang tidak memadai bagi wartawan, dan fasilitas latihan bermutu rendah (salah satunya adalah permukaan lapangan latihan yang keras, menurut keluhan pemain Arab Saudi).

Kejadian-kejadian tersebut pasti akan dicatat dan dijadikan bahan pertimbangan oleh AFC. Kalo gini caranya, jangan harap Indonesia bakal dipercaya untuk menggelar ajang olahraga internasional di masa depan. Bisa-bisa di Indonesia gak bakal ada “pesta” lagi.

Tuesday, July 10, 2007

Tulisanku yang Payah

Tulisanku payah. Aku baru menyadarinya setelah membaca “Essay Writing: The Essential Guide” yang kudapat dari sebuah laman (website). “Essay Writing…” memaparkan “dosa-dosa” sebuah tulisan--khususnya esai, tentu saja--alias hal-hal yang harus dihindari dalam pembuatan tulisan, kecuali kalo kita pingin bikin karya membosankan yang gak dibaca orang. Hebatnya, seluruh “dosa” tersebut ada dalam tulisan-tulisanku.

Berbagai topik yang dikemukakan dalam tulisanku sebenarnya cukup menarik. Tapi, sebagus apapun idenya, sia-sia saja kalo kita gak bisa memikat pembaca untuk menyimak tulisan kita dari awal hingga akhir. Pembaca gak mungkin mau buang-buang waktu membaca tulisan yang strukturnya seperti di bawah ini misalnya:

Topik: Buku “Menjadi Manusia Pembelajar”
Pembukaan: informasi umum tentang “Menjadi Manusia Pembelajar”
Inti: definisi “manusia pembelajar”, plus dan minus “Menjadi Manusia Pembelajar”
Penutup: simpulan tentang “Menjadi Manusia Pembelajar”

Kenapa? Karena strukturnya membosankan--kaku, gampang ditebak (deskripsi, plus-minus, simpulan), dan sama sekali gak imajinatif. Sekali lagi, aku harus menyelamati diriku karena sering sekali menulis dengan pendekatan seperti itu.

Sebaliknya, imajinasi yang liar--saking liarnya sampai-sampai membawa tulisan semakin gak nyambung dengan topik utamanya--juga bukan cara yang tepat untuk membuat tulisan yang baik. Imajinasi memang diperlukan dalam menulis, tapi mengendalikan diri untuk tidak bertele-tele juga sama pentingnya. Kita semua suka sedikit intermezzo, tapi kalo kebanyakan--capee deh!

Kalimat yang gak efektif juga sama membosankannya seperti paparan yang bertele-tele. Seandainya suatu kalimat bisa ditulis secara singkat dan padat, ngapain berpanjang-panjang? Daripada “Kata-kata itu terdengar berulang kali di berbagai tempat sampe-sampe jadi terkesan klise”, lebih baik kita menulis “Kata-kata itu terdengar berulang kali sehingga terkesan klise”--toh artinya sama aja.

Sebetulnya, semua “dosa” di atas bisa dihindari jika saja aku gak males brainstorming, nyusun kerangka karangan, dan mengedit tulisan. Emang sih, dosenku pernah bilang bahwa kelemahan utama penulis pemula adalah kepengen bikin tulisan sekali jadi: duduk di depan komputer, ngetik, tulisan langsung beres deh. Padahal, tulisan bagus harus direncanakan dengan matang dan dievaluasi, gak mungkin dibuat secara kilat.

Makanya Ren, jangan males dan terus belajar nulis!

Sunday, July 01, 2007

E-book Harry Potter and the Deathly Hallows: Asli atau Palsu

Lagi browsing, trus gak sengaja nemu e-book “Harry Potter and the Deathly Hallows”? Jangan seneng dulu, karena mungkin aja buku itu ternyata palsu. Hasil pengamatanku menunjukkan bahwa e-book palsu ini ternyata berhasil mengelabui banyak orang. Biar gak ketipu, berikut ini beberapa tips untuk mencari tahu apakah e-book “Harry Potter and the Deathly Hallows” (selanjutnya disingkat menjadi DH) temuan kalian itu asli atau palsu.

(1) Copy kalimat dari e-book tersebut, kemudian paste ke kolom kata kunci di mesin pencari (misalnya Google). Apabila kita bisa nemuin kalimat yang persis sama dalam sebuah fanfiction misalnya, maka sudah dapat dipastikan bahwa e-book DH itu palsu.

(2) Tanyakan ke si pengirim, dari mana dia ngedapetin e-book (atau link ke e-book) tersebut. Kalo sumber pertamanya aja udah meragukan, jangan heran kalo e-book DH itu palsu.

(3) Masuki forum atau laman penggemar Harry Potter, siapa tau ada yang bisa membantu verifikasi isi e-book DH temuan kita.

(4) Lihat sekilas keseluruhan isi e-book, adanya berbagai keganjilan (misalnya gaya bahasa yang beda dengan biasanya, penggunaan ejaan Amerika dan bukan ejaan Inggris, adegan 17+) bisa menjadi petunjuk tak terbantahkan tentang kepalsuan isi e-book tersebut.

Seandainya suatu waktu kalian nemuin e-book DH yang isinya asli, ingatlah bahwa e-book tersebut adalah hasil ketikan ulang penggemar Harry Potter (setahuku, penerbit Harry Potter—Scholastic--tidak menerbitkan DH dalam format e-book)--kerjaan yang dilakukannya tanpa dibayar, semata-mata karena ingin membantu sesama penggemar Harry Potter untuk menikmati DH sebelum edisi lokalnya beredar di negara-negara tertentu.

Jadi, jangan lupa untuk membeli (atau setidak-tidaknya meminjam :D) “Harry Potter and the Deathly Hallows” ASLI setelah buku ini diterbitkan di Indonesia. Yah, hitung-hitung sebagai bentuk penghargaan kita kepada Bu Rowling yang udah menciptakan karya hebat yang berhasil mempesona kita semua.

Monday, June 25, 2007

The Diary of a Young Girl (oleh Anne Frank)

Dalam Perang Dunia II--dan bencana kemanusiaan lainnya--rakyat jelata adalah pihak yang paling menderita. Tapi, mereka jugalah yang selalu paling mudah terlupakan. Kalo disuruh nyebutin orang-orang yang terlibat dalam Perang Dunia II, mungkin yang segera teringat adalah tokoh ternama macam Hitler, Eisenhower, atau mungkin Oppenheimer (wow, namanya berima!)--bukan gadis muda yang dipaksa menjadi budak seks, orang tua yang kehilangan anaknya di medan perang, ataupun keluarga yang harta bendanya ludes dan harus mengungsi akibat perang.

Untungnya, masih ada orang yang mau repot-repot menuliskan pengalaman hidupnya di tengah hiruk-pikuk Perang Dunia II--yang konon merupakan perang terbesar dalam sejarah. Berkat mereka, kita bisa mendapat sedikit gambaran tentang perang dari kacamata orang kebanyakan--sekaligus mengambil pelajaran darinya. Anne Frank adalah salah satunya.

Anne Frank sebetulnya adalah gadis remaja yang biasa-biasa aja. Seperti cewek-cewek seumurnya, Anne sering mengkhawatirkan hal-hal sepele seperti nilai, pacaran, juga konflik dengan ortu yang sama sekali gak memahami dirinya. Anne biasa menuliskan segala buah pikirannya dalam sebuah buku harian--hadiah ulang tahunnya yang ke-13--yang diberinya nama “Kitty”.

Isi buku harian Anne menjadi semakin “menarik” saat kehidupan normal sang penulis berubah total. Ketika tentara Jerman--yang menduduki Belanda, tempat Anne tinggal--semakin giat menjaring penduduk keturunan Yahudi (dan juga “ras“ lain yang dianggap rendah oleh NAZI, seperti Polandia dan Gipsi) untuk dikirim ke tempat kerja paksa, Otto Frank Sang Ayah memutuskan untuk mengungsikan keluarganya ke persembunyian. Lokasi persembunyian ini adalah sebuah ruang rahasia--dalam buku disebut sebagai “The Secret Annex”--yang terletak di sebuah kantor tempat salah seorang kenalan Otto Frank bekerja. Di sana, keluarga Frank (Otto, Edith Sang Ibu, Margot Si Kakak Perempuan, dan Anne) tinggal bersama empat orang lainnya selama sekitar dua tahun.

Bayangin aja, gimana rasanya tinggal di persembunyian dalam jangka waktu begitu lama tanpa boleh keluar sama sekali? Bosan pastinya. Untuk mengusir perasaan bosan selama di persembunyian, Anne ikut sekolah jarak jauh, membaca buku pinjaman (lewat jasa seorang “kurir”, yaitu seorang kenalan yang mengetahui keberadaan Anne dll), mendengarkan radio (tentu saja bareng ama yang lainnya), belajar menari (secara otodidak), mengoleksi biografi artis (!), ngobrol, dan tentu saja, menulis. Kebosanan akibat suasana yang monoton mungkin bisa diusir, tapi gimana kalo bosen ama sesama penghuni Annex? (Perasaan yang wajar mengingat mereka selalu bersama, 24 jam sehari.) Sayangnya, orang-orang ini gak bisa diusir dan rasa muak melihat manusia yang sama 24 jam sehari acapkali berujung pada pertengkaran antar penghuni.

Sifat Anne yang kritis--gak seperti dua orang anak lain yang tinggal di sana yaitu Margot dan Peter van Pels--selalu membuatnya kena marah para orang dewasa setiap kali terjadi perdebatan antar penghuni. Anne selalu punya pendapat sendiri dan dia gak pernah ragu untuk mengemukakan pendapatnya. Akibatnya, orang dewasa mengecapnya sebagai anak yang gak punya sopan santun. Dalam tulisan-tulisannya, sifat Anne yang satu ini kentara sekali--bukan cuma tindakan orang dewasa yang dipertanyakannya, tapi juga peristiwa yang terjadi di sekitarnya, salah satunya ya soal perang.

Selain menulis tentang perasaannya, Anne juga menulis tentang susahnya hidup di masa perang, di persembunyian pula. Gimana susahnya mendapatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari (yang kadang cuma tersedia di pasar gelap dengan harga selangit), gimana repotnya untuk sekedar (maaf) buang hajat, gimana seremnya kalo ada serangan udara, gimana mereka kadang mengonsumsi valerian--akar-akaran yang punya manfaat sebagai obat penenang--untuk mengurangi ketegangan, dll.

Sayangnya, kisah Anne gak berakhir bahagia. Pada bulan Agustus 1944, Annex digerebek oleh polisi rahasia Jerman dan penghuninya dibawa ke kamp konsentrasi. Anne meninggal beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir dan Otto Frank menjadi satu-satunya penghuni Annex yang selamat dari kekejaman kamp konsentrasi.

Anne menyatakan bahwa ia bercita-cita menjadi penulis. Meskipun “The Diary of a Young Girl” merupakan satu-satunya karyanya, cita-cita Anne boleh dibilang telah terkabul. Lewat buku hariannya, Anne bukan hanya membuat namanya tak terlupakan--seperti layaknya penulis kondang yang karyanya gak lekang dimakan zaman--tapi juga menyuarakan perasaan seorang korban Perang Dunia II, mewakili orang-orang yang gak bisa menyuarakan penderitaan mereka.

Saturday, May 26, 2007

Yang Baik, Yang Alami

Makanan organik. Tanpa bahan pengawet. 100% alami. Pernah denger kata-kata itu? Kemungkinan besar pernah, karena masyarakat kita--entah sadar atau tidak--sedang gandrung-gandrungnya dengan segala hal yang berlabel “alami” atau “non-kimiawi”. Siapa sih yang gak trauma dengan bahan kimia setelah menyaksikan liputan menghebohkan tentang formalin dalam makanan atau kerusakan kulit akibat penggunaan kosmetik pemutih kimiawi, misalnya?

Kecenderungan ini bukan hanya monopoli masyarakat Indonesia. Back to nature justru lebih dulu menjadi gejala di dunia Barat. (Kalo di Indonesia sih--kalo mau jujur--apanya yang back to nature? Dari dulu sampe sekarang kita selalu--kurang lebih--in unison with nature. Makanya orang masih sering minum jamu atau obat Cina waktu sakit, bener nggak?) Hal ini tampaknya terjadi karena meningkatnya ketidakpercayaan terhadap sains yang tidak mampu memecahkan banyak masalah dalam masyarakat; dalam beberapa kasus malah menambah masalah. Masih banyak penyakit yang belum dapat disembuhkan, kecanduan obat penenang (misalnya diazepam yang lebih dikenal dengan nama dagangnya, Valium), tanaman hasil rekayasa genetika yang dikhawatirkan menimbulkan efek samping bila dikonsumsi; itu hanya beberapa contoh.

Singkat kata, akhirnya timbul pandangan umum di Barat sana bahwa bahan kimiawi (non-alami) punya potensi untuk menimbulkan dampak buruk sehingga lebih baik tidak dikonsumi. Beda dengan bahan alami yang bebas efek samping. (Halo, tau ganja gak? Tembakau? Atau jengkol? Mungkin enggak.) Karena segala hal yang menjadi mode di Barat lambat laun akan ditiru juga di sini, jangan heran kalo back to nature pun akhirnya menjadi mode di Indonesia. Jangan heran juga kalo ternyata orang-orang yang pertama kali menerapkan hal tersebut di Indonesia adalah orang-orang yang gak segan-segan ngeluarin uang jutaan rupiah untuk membeli barang terbaru buatan perancang terkenal supaya gak ketinggalan mode termutakhir. (Di rubrik “Gaya Hidup” Kompas beberapa bulan lalu, ditampilkan para pengkonsumsi makanan organik. Tau kan, yang gak pake pupuk, pestisida, diairi bukan pake air PDAM, dan sebagainya. Mereka semua orang kaya, di antaranya artis tenar seperti Lusy Rahmawati dan Melly Manuhutu.)

Terlepas dari keyakinan yang salah bahwa bahan alami selalu bebas efek samping, sebetulnya gak ada salahnya mengkonsumsi makanan/kosmetik/apapun yang tidak dicemari bahan sintetik. (Udah tau kan kalo penggunaan istilah “bahan kimiawi” sebenernya salah kaprah karena semua benda di dunia ini pada dasarnya tersusun oleh unsur kimia. Yang bener adalah “bahan sintetik”, artinya bahan tersebut tidak diambil langsung dari tumbuhan/hewan/tanah/udara/dsb tapi disintesis di laboratorium.) Yang salah adalah, menurutku, cara produsen menekankan keunggulan produk mereka secara berlebihan.

Contohnya dalam pemakaian bahan pengawet. Bahan pengawet tuh kesannya berbahaya banget sehingga produsen yang tidak menggunakan pengawet dalam produk mereka menggembar-gemborkan hal ini. Salah duanya dalam minyak goreng kemasan dan susu pasteurisasi. Kedua produk ini emang gak perlu pengawet karena sebagian besar mikroorganisme gak bisa hidup dalam minyak goreng karena gak ada nutrisinya dan susu pasteurisasi emang bisa dibilang udah steril. Jadi, melebih-lebihkan ketiadaan pengawet dalam kedua produk tersebut sama konyolnya dengan menekankan manfaat air yang bisa menghilangkan haus.

Contoh kedua, soal makanan “organik”. Harga bahan makanan “organik” jauh lebih mahal daripada makanan hasil pertanian “konvensional”. (Istilah yang patut dipertanyakan mengingat petani kita dulu gak pake pestisida, pupuk sintetik, dan semacamnya. Mungkin mereka baru memakai produk-produk tersebut setelah “diajarin” pemerintah yang ingin menjalankan rekomendasi FAO--rekomendasi yang sebenernya gak semuanya tepat bilamana dilaksanakan di Indonesia.) Harga mahal dianggap wajar karena makanan organik dianggap lebih sehat. Padahal, bukan itu sebabnya.

Petani “organik” punya daya tawar lebih tinggi dalam penjualan hasil panennya dibandingkan dengan petani “konvensional”. Petani “organik” umumnya menjual hasil panennya sendiri atau lewat distributor tetap (yang gak akan terlalu mudah mencari pemasok bilamana sang petani menolak untuk menjual hasil panennya kepada sang distributor). Lewat jalur manapun, mereka punya daya tawar lebih tinggi untuk menentukan harga jual hasil panennya dibandingkan dengan petani “konvensional”. Selain itu, jumlah makanan “organik” yang relatif sedikit memungkinkan makanan jenis ini dijual dengan harga tinggi. Petani “konvensional” gak bisa serta merta beralih ke pertanian “organik” karena tanah yang udah bertahun-tahun dipupuk bakal menurun produktivitasnya bilamana pemupukannya dihentikan. Pelik kan?

Sebetulnya, gak masalah kita mau milih makanan “organik”, makanan bebas pengawet, atau yang semacamnya kalo emang ngerasa yakin bahwa makanan tersebut lebih sehat dan bermanfaat. Yang penting, kita harus mencari informasi selengkap mungkin dari segala sisi. Singkat kata, jadilah konsumen yang kritis. Selain itu, ingatlah bahwa 4JJ1 gak menyukai segala sesuatu yang berlebihan. Mau alami kek, sintetik kek, segala sesuatu yang dikonsumsi berlebihan pasti membawa dampak negatif. Kebanyakan air aja bisa menyebabkan kejang-kejang, bahkan kematian. Ingat sapi glogok?

Thursday, April 26, 2007

Dalam Jeratan Tradisi

Ketika satu lagi kematian tak wajar seorang praja IPDN (dulu STPDN) terkuak sehingga menimbulkan kecaman luas atas keberadaan institusi tersebut, tidaklah mengherankan bila alumninya bersuara lantang mendukung metode “pembinaan” IPDN/STPDN yang menurut mereka oke-oke saja. Padahal, semua orang waras di Indonesia pasti pusing tujuh keliling, gak ngerti hubungan antara tendangan dan pukulan dengan pembinaan fisik serta mental dalam rangka membentuk pribadi-pribadi yang siap menjadi pemimpin di masa depan.

Kenapa tidak mengherankan? Nah, sekarang coba kutanya balik. Apakah ada yang mengherankan pada perayaan 100 hari kematian? Tukeran cincin pas nikah? Ato bahkan sistem ujian apoteker di ITB (bagi yang tau seperti apa sistemnya)? Kalo Anda tidak merasa ada yang aneh dengan hal-hal tersebut maka: Selamat! Ini berarti Anda sudah terprogram sedemikian rupa, sama seperti alumni dan praja (dan dosen) IPDN yang diprogram untuk menganggap bahwa pukulan dan tendangan adalah hal yang wajar demi melatih kedisiplinan sehingga diam seribu bahasa (bahkan malah turut berpartisipasi) ketika sekian ratus praja dihajar bertubi-tubi setiap hari.

Selama manusia masih hidup bersama orang lain dalam masyarakat, ia akan senantiasa terprogram untuk mengikuti nilai, aturan, dan kebiasaan tertentu. Proses ini berlangsung terus menerus sejak kita kecil sehingga nilai, aturan, dan kebiasaan tersebut akhirnya terinternalisasi atau menjadi bagian dari diri kita. Seseorang adakalanya mengalami benturan dengan nilai-nilai yang tidak sesuai, mungkin malah berlawanan, dengan nilai-nilai yang dipegangnya selama ini.

Inilah yang dialami seorang praja saat baru masuk IPDN. Mana ada masyarakat yang menerima praktek penganiayaan massal seperti yang terjadi di IPDN? Dalam keadaan seperti ini, hanya ada dua pilihan: menolak (seperti para praja yang mengundurkan diri) atau menerima. Bila opsi kedua yang dipilih, aku berani jamin, kelak praja tersebut pasti melakukan tindak kekerasan kepada adik kelasnya. Bukan semata-mata karena ingin membalas dendam, tapi karena kekerasan sudah dianggap sebagai suatu kebiasaan sehingga rasanya tak ada yang salah dengan hal itu. Dengan kata lain, kekerasan sudah terinternalisasi dalam diri si praja.

Suatu nilai/aturan/kebiasaan yang sudah terinternalisasi dalam diri seseorang akan sangat sulit untuk diganti dengan nilai/aturan/kebiasaan baru. Bahkan untuk sekedar mempertanyakannya pun butuh usaha yang luar biasa. Penyebabnya ada dua.

Pertama, karena manusia emang susah untuk kritis terhadap dirinya sendiri. Buktinya, sebagian besar orang gak mudah untuk mengakui kesalahan atau minta maaf pada orang lain. Gak aneh kan, kalo kita juga gak mudah meninjau, mempertanyakan, apalagi tradisi yang kita pegang.

Kedua, suatu tradisi (yang pada dasarnya merupakan meme) bisa bertahan sekian lama karena memang menguntungkan untuk dipertahankan. Dalam kasus IPDN misalnya, hubungan junior-senior yang kaku-- yang disertai hak prerogatif bagi para senior untuk melakukan apa saja (termasuk tindak kekerasan) kepada juniornya--menguntungkan bagi pihak-pihak tertentu (dan juga bagi meme “kekerasan” dan “hubungan junior-senior yang kaku” karena memungkinkan meme-meme ini untuk terus bertahan serta memperbanyak diri; tapi itu cerita lain).

Harus kuakui, aku emang gak suka dengan gaya “pendidikan” di IPDN--kalo yang kayak gitu emang bisa disebut pendidikan. Tapi, tulisan ini gak dibuat semata-mata untuk mencurahkan ketidaksukaanku pada lembaga tersebut melainkan lebih untuk menyadarkan diri sendiri untuk tidak menjadi seperti praja dan alumni IPDN yang sekedar mengikuti tradisi ngaco demi sekedar bertahan hidup.

Bukannya aku gak setuju kalo kita ngikutin tradisi atau kebiasaan dalam masyarakat. Apalagi nenek moyang kita juga umumnya merumuskan suatu tradisi berdasarkan suatu alasan yang baik. Namun, harus disadari bahwa gak semua tradisi layak untuk terus diterapkan.

Contohnya, seperti yang kusebut di atas, perayaan kematian yang dibalut pengajian dan pembacaan doa tapi sebenarnya gak sesuai ajaran Islam karena merupakan peninggalan leluhur kita yang menganut dinamisme (bukan berarti ada yang salah dengan mendoakan orang yang meninggal, loh).

Biar bagaimanapun, manusialah yang menciptakan tradisi, bukan sebaliknya. Itu yang harus selalu diingat.

Sunday, April 01, 2007

Menjadi Manusia Pembelajar (Andrias Harefa)

Menjadi manusia pembelajar, menjadi manusia pembelajar, menjadi manusia pembelajar. Kata-kata itu terdengar (sebenernya sih tertulis) berulang kali di berbagai tempat sampe-sampe jadi terkesan klise (misalnya, “Salam, X, yang sedang berusaha menjadi manusia pembelajar”).

Tapi apa sih sebenernya yang dimaksud dengan “manusia pembelajar” itu? Akhirnya, aku berkesempatan juga untuk membaca buku “Menjadi Manusia Pembelajar” karya Andrias Harefa--buku yang, saking berpengaruhnya, judulnya sering banget dikutip orang.

Pada dasarnya, menurut Andrias Harefa, manusia pembelajar adalah seseorang yang senantiasa belajar tentang (learning about), belajar (learning to do), dan belajar menjadi (learning to be) manusia yang manusiawi. Manusia pembelajar adalah “manusia” (human being) yang belajar “menjadi manusia” (being human). Akibat kegagalan sebagian besar orang dalam melakukan hal (tidak menjadi manusia pembelajar) inilah yang, lagi-lagi menurut sang penulis, menjadi sebab carut-marutnya seluruh aspek kehidupan di Indonesia.

Pusing kan? Dijamin pusing. Kalo enggak, berarti kamu udah pernah baca bukunya dan gak perlu lagi baca tulisan ini :D. Si penulis sendiri butuh empat bab untuk menjelaskan kenapa kita perlu menjadi manusia pembelajar dan seperti apakah manusia pembelajar itu. Jadi, gak mungkin aku bisa menjelaskan semua itu hanya dalam satu paragraf.

Tapi, bisa disimpulkan bahwa manusia pembelajar adalah seseorang yang senantiasa berusahauntuk menjadi lebih baik. Caranya? Tentu saja dengan belajar: belajar memahami dirinya, belajar mengeluarkan/menggunakan potensi terbaik dalam dirinya--pokoknya terus belajar yang “baik-baik” sampai dia mati deh (gak usah memusingkan diri dengan perdebatan filosofis tentang “baik” deh; orang normal umumnya tau sendiri “baik” itu yang kayak gimana).

Penggemar buku-buku populer tentang psikologi dan manajemen diri harap siap-siap aja untuk kecewa karena buku ini tidaklah menawarkan petunjuk-petunjuk praktis atau yang semacamnya. Andrias Harefa menyatakan dengan jelas bahwa buku ini adalah intisari dari hasil pergelutan pribadinya. Ia menawarkan konsep yang dipercayanya, benar. Syukur-syukur kalo bisa mencerahkan orang lain. Tapi, setiap orang harus menemukan “jalan”nya sendiri untuk menjadi manusia pembelajar karena gak ada panduan umum yang berlaku untuk semua orang.

Sebaliknya, kalo gak suka atau gak setuju dengan pernyataan-pernyataan dalam buku ini (atau gak setuju ama konsep “manusia pembelajar), gak perlu mencak-mencak dan menuntut agar sang penulis membuktikan klaimnya secara ilmiah--”Menjadi Manusia Pembelajar” memang bukan karya ilmiah kok.

Orang-orang yang berperasaan peka (atau sok peka) mungkin bakal terganggu dengan gaya bertutur Andrias Harefa yang tanpa tedeng aling-aling, bahkan adakalanya terkesan “kasar” (aku sih oke-oke aja, habis semua yang ditulisnya emang bener kok--gak mengada-ada).

Selain itu, paparan buku ini yang kadang terasa bertele-tele mungkin akan membuat orang cepet bosen (temenku Riri salah satu contoh nyatanya). Tapi gaya penulisan yang terkesan bertele-tele ini mungkin hanyalah cara Andrias Harefa untuk memperjelas maksudnya. Melihat banyaknya orang yang terinspirasi untuk memproklamirkan diri sebagai “manusia pembelajar” (atau orang yang mencoba menjadi “manusia pembelajar”), tampaknya maksud sang penulis telah tersampaikan.

Monday, March 26, 2007

Nyamuk dan Manusia

Dalam kerajaan (taksonomi) animalia, manusia mungkin termasuk spesies yang memiliki usia paling panjang. Usia manusia berkisar antara 60 tahun. Umur spesies lain umumnya tidak sepanjang kita.

Bandingkan dengan nyamuk, misalnya. Kalo gak salah, nyamuk cuma punya waktu kurang dari 30 hari untuk hidup. Nyamuk berkembang dari telur menjadi larva kemudian nyamuk dewasa sampai akhirnya mati hanya dalam waktu 30 hari. Bila dibandingkan dengan waktu hidup manusia yang jauh lebih panjang, kehidupan nyamuk tampak begitu singkat dan tidak berarti.

Tapi apa iya hidup kita lebih berarti daripada nyamuk semata-mata karena kita hidup jauh lebih lama? Sebagian besar orang tampaknya sudah cukup puas bila bisa menjalani hidup yang membosankan (sama seperti nyamuk) dengan kronologi sebagai berikut: belajar di sekolah sampai lulus, dapet kerjaan (kalo bisa yang gajinya gede), nikah, beranak, pensiun (mudah-mudahan dengan harta berlimpah), dan akhirnya mati.

Tentu aja, gak ada yang salah dengan mengharapkan itu semua. Yang salah adalah, jika kita memaknai hidup ini hanya sebatas demi mencapai tahapan-tahapan tersebut. Dan percayalah, banyak orang yang memandang hidup tak lebih dari itu.

Lihat aja orang yang terkena post-power syndrome setelah pensiun. Orang macam ini menganggap pekerjaan sebagai jati dirinya (misalnya: Pak X yang tentara mendefinisikan dirinya sebagai “tentara”, Bu Z yang direktur perusahaan mendefiniskan dirinya sebagai “direktur perusahaan”--tak lebih dari itu). Jadi, di saat pensiun, ia akan merasa kehilangan jati diri, merasa gak berarti lagi, dan tak lama kemudian mati karena depresi.

Gimana dengan orang-orang rese yang gak henti-hentinya merongrong pasangan yang baru menikah (atau udah lama menikah tapi belum punya anak) dengan pertanyaan, “Kapan nih punya anak?” atau semacamnya? Emangnya tujuan menikah tuh cuma untuk berkembang biak ya?! Kalo gitu sih, gak usah susah-susah nikah--cukup “kawin” aja.

Nah, kalo kita emang menjalani hidup ini hanya untuk sekolah sampai lulus-dapet kerja yang gajinya gede-menikah-beranak-pensiun dengan harta melimpah sampai akhirnya mati, apa bedanya kita dengan nyamuk yang hidup hanya untuk menjadi telur-larva-nyamuk dewasa-berkembang biak-mati? Kalo kita gak pernah merenungi dan membuat hidup kita bermakna tapi cuma sekedar “menjalani arus”, apa bedanya kita ama nyamuk? Kalo kita mengambil setiap keputusan dalam hidup semata-mata karena pertimbangan “emang seharusnya begitu”, terus apa bedanya kita dengan nyamuk yang menunggu untuk mati?

Mungkin kita semua emang cuma makhluk dengan hidup tanpa arti yang gak sadar bahwa hidupnya tuh sama sekali gak penting. Jadi, apa bedanya kita dengan nyamuk?

Catatan: Ditulis sambil ngedengerin “Love So Sweet” dari Arashi yang emang gak nyambung banget dengan topik tulisan ini. Mudah-mudahan gak mempengaruhi greget tulisan ini.

Saturday, March 17, 2007

The Heiké Story (Yoshikawa Eiji)

Penggemar karya sastra Jepang mungkin udah gak asing lagi dengan nama Yoshikawa Eiji. Karyanya yang paling terkenal, “Musashi”, dulu pernah diterbitin di Kompas secara bersambung dan bukunya udah diterbitin oleh Gramedia. Mengingat edisi terjemahan “Musashi” pertama kali diterbitin tahun 1980-an (kalo gak salah) namun ternyata bukunya masih dicetak ulang sampe sekarang, aku mengasumsikan bahwa “Musashi” emang cukup memikat hati penggemar buku di Indonesia (ya ampun, bahasanya!).

Tulisan ini bukan tentang “Musashi” tapi tentang karya Yoshikawa yang lain, seperti udah bisa ditebak dari judul tulisan ini, “Shin Heiké Monogatari” (atau diterjemahin dalam bahasa Inggris sebagai “The Heiké Story”). Kisah ini, seperti “Musashi”, berdasarkan pada kehidupan tokoh yang pernah hidup di masa lalu. Tokoh utama kisah ini adalah Heiké no Kiyomori (atau Taira no Kiyomori), seorang samurai yang hidup sengsara di masa mudanya namun berhasil membawa klan Heiké menjadi salah satu keluarga militer paling berpengaruh di Jepang pada abad ke-12.

Ada beberapa alasan kenapa aku suka banget buku ini. Pertama, karena penceritaannya yang baik. Mungkin setiap orang punya penilaian sendiri mengenai bagaimana penceritaan yang baik (atau yang tidak baik) itu. Nah, kalo menurutku, penceritaan yang baik adalah cara bercerita yang bikin kita terlarut di dalamnya sekaligus membuat kita gak pingin berhenti menyimak cerita tersebut. Paparan dalam buku ini cukup rinci sehingga kita bisa ngebayangin setiap kejadian, keadaan sekitar, maupun kondisi psikologis yang dialami para tokohnya. Namun, paparan tersebut juga gak terlalu bertele-tele sehingga gak bikin bosen.

Kedua, karena aku emang tertarik dengan cerita yang berlatar belakang sejarah. Aku suka cerita macam itu karena bisa memberikan sedikit gambaran tentang kehidupan orang di masa lalu: bagaimana cara mereka menjalani kehidupan, memandang segala sesuatu, dll. Aku juga bisa lebih memahami alasan di balik suatu tindakan yang, kalo dilihat dari sudut pandangku dan orang lain saat ini, kebangetan. Misalnya, membunuh lawan dan bahkan keluarga sendiri tanpa ampun, rela jadi wanita simpanan orang yang membunuh “suami”nya sendiri, dll.

Ketiga, karena bahasanya gak sulit dimengerti. Sebagai orang yang bahasa sehari-harinya bukan bahasa Inggris, wajar dong kalo tingkat kesulitan bahasa mempengaruhi ketertarikan kita terhadap suatu bahan bacaan. Secara umum sih, bahasa Inggris yang dipake gak terlalu sulit. Jadi semua orang yang udah pernah dapet pelajaran bahasa Inggris di SMA harusnya gak akan terlalu kesulitan memahami buku ini.

Sayangnya, “The Heiké Story” yang kubaca ini bukanlah terjemahan lengkap dari “Shin Heiké Monogatari”. Buku yang kubaca diakhiri dengan “adegan” kaburnya Yoshitsuné (anak dari “musuh” Kiyomori) dari pengasingan. Padahal, kalo menyimak dari judulnya, bisa diperkirakan bahwa cerita ini harusnya diakhiri saat meninggalnya Kiyomori atau anggota terakhir keluarga Heiké yang tersisa (Tokuko, anak perempuan Kiyomori yang sekaligus juga ibu dari Kaisar Antoku).

Selain itu, ada bagian yang diringkas dan sub-plot yang dihilangkan (tentu saja dengan seizin Yoshikawa sensei). Soalnya kalo diterjemahin seluruhnya maka dikhawatirkan akan membuat pembaca (yang tentunya bukan orang Jepang dank arena itu tidak akrab dengan kisah keluarga Heiké) bingung. Alasan yang bisa dimengerti. Dengan versi yang sekarang aja aku harus banyak melakukan pengecekan ulang ke panduan tokoh di bagian awal buku; habis tokohnya banyak banget sih, apalagi ada yang namanya mirip-mirip (contohnya: Yoshitomo, Yoritomo, Yoshihira, Yorimori, dll). Tapi, sebenernya aku gak keberatan. Masalahnya, dengan mereduksi beberapa bagian, ada beberapa tokoh yang “menghilang” (gak disinggung-singgung lagi dalam cerita dan gak jelas keberadaannya).

Terlepas dari beberapa “kekurangan”, aku sangat merekomendasikan buku ini--terutama untuk teman-teman yang tertarik dengan sejarah dan kebudayaan Jepang. Kalo mo pinjem juga boleh kok, tapi jaga baik-baik ya ! ^_^

Catatan: Makasih banyak untuk Kiki yang udah berbaik hati memberikan buku ini sebagai hadiah.

Tuesday, March 13, 2007

Istighfar

Ampun deh! Udah berapa lama blog ini gak diisi? Dua bulan? Emang sih, kemaren-kemaren aku lagi lumayan “sibuk”--tapi itu harusnya gak jadi alasan kan?!

Hal yang dominan dalam dua bulan ini di Indonesia, gak lain dan gak bukan, adalah bencana. Banjir, longsor, kecelakaan transportasi darat-laut-udara, angin puting beliung, dll terjadi silih berganti. Rentetan kejadian itu memperpanjang daftar bencana di Indonesia yang diawali oleh tsunami tiga tahun lalu.

Wacana yang kemudian timbul di tengah masyarakat adalah seruan untuk bertaubat, beristighfar. Rakyat Indonesia udah terlalu lama terjerumus dalam kesesatan, korupsi dan maksiat merajalela di mana-mana. Gak aneh kalo Allah kemudian murka kepada kita sehingga akhirnya menimpakan azabnya di bumi Indonesia ini.

Terus terang aja, aku rada-rada sinis ama pernyataan macam itu. Jangan salah sangka loh, aku bukan seorang agnostik apalagi ateis yang gak percaya ama kemahabesaran Allah. Tapi, yang bener aja deh! Kalo patokannya perbuatan maksiat, jangan-jangan maksiat di Monte Carlo (biang judi) atau Amsterdam (prostitusi, pernikahan homoseksual, ganja yang dilegalkan) lebih parah daripada di sini. Namun, sampai sekarang gak kedengaran ada bencana apapun tuh, di Monako dan Belanda.

Apakah rangkaian bencana ini merupakan azab atau ujian, kita gak akan pernah tau. Yang jelas, manusia tuh gak lepas dari kesalahan. Kalo mau mohon ampun kepada Allah, harusnya sih tiap hari; bukannya nunggu sampe ada banyak bencana kayak sekarang. Lagian, sebagian besar bencana yang terjadi di Indonesia kan sebagian karena kesalahan kita sendiri.

Gimana mungkin gak ada banjir dan longsor, kalo kita suka buang sampah sembarangan dan nebangin pohon-pohon demi pembuatan bangunan mewah? Gimana mungkin gak ada kecelakaan yang bertubi-tubi kalo penyedia jasa transportasi hanya mementingkan pemasukan dari para penumpang tapi tidak mengalokasikan cukup dana untuk menjamin keselamatan mereka?

Bukan berarti kita gak perlu istighfar. Perlu, perlu banget malah! Tapi, taubat yang sesungguhnya gak cukup dengan hanya pakai baju putih, terus zikir rame-rame sampai mencucurkan air mata. Gak ada yang salah dengan melakukan hal itu, tapi kalo setelahnya gak ada perubahan perilaku sih sama aja b0hong. Bukankah keimanan itu perlu dibuktikan dengan perbuatan?

Mungkin rakyat jelata macam aku gak bisa berbuat banyak. Setidaknya, aku akan membuktikan bahwa aku bener-bener tunduk kepada Allah dengan tindakan-tindakan sederhana. Aku gak akan buang sampah sembarangan (kebersihan sebagian dari iman). Aku gak akan silau melihat orang kaya yang hartanya diperoleh lewat perbuatan curang (Allah aja hanya menilai manusia dari ketakwaannya). Moga-moga aja semua orang kepikiran untuk melakukan hal yang sama.

Friday, January 26, 2007

Sambung Terussss

“Sebarin SMS ini ke sepuluh nomor … (nama provider telepon selular). Dijamin, pulsa kamu bakal nambah 50.000. Serius, gak bohong!”

Tau pesan berantai kan? Itu tuh, pesanyang isinya memerintahkan si penerima untuk menjalankan serangkaian hal--termasuk menyebarkan surat tersebut kepada sejumlah orang--disertai ancaman apabila perintah tersebut tidak ditaati atau sebaliknya, iming-iming keberuntungan kalo perintah itu bener-bener dilaksanakan.

Pertama kali dapet pesan berantai, aku masih SD dan pesan itu datang dalam bentuk surat pos. Sekarang, media penyebaran surat berantai jauh lebih banyak lagi, lewat e-mail, SMS, dan pesan pribadi di website/forum diskusi. Contohnya ya SMS di awal tulisan ini, yang pernah kuterima dari salah seorang temen.

Dilihat sekilas aja, mungkin udah keliatan kalo SMS di atas tuh omong kosong. Ajaibnya, SMS penuh omong kosong ini berhasil menipu setidak-tidaknya dua orang: aku dan si pengirim SMS itu. Isi pesan berantai memang seperti itu, begitu bombastis sampai-sampai keliatan banget gak masuk akal. Anehnya, melihat banyaknya pesan berantai yang kuterima sampai saat ini melalui media elektronik, orang masih bisa kemakan omong-kosong pesan berantai. Hebat kan?!

Bagaimana mungkin pesan berantai yang gak masuk akal bisa terus menyebar dan dipercaya? Jawabannya, karena pesan berantai mengandung paling tidak satu dari tiga unsur (bahaya, sanjungan, keuntungan) yang “lengket” (ditinjau dengan teori “Tipping Point”-nya Gladwell) atau punya kemampuan “menekan tombol” dalam akal budi kita (ditinjau dengan memetika).

Contohnya SMS yang ada di awal tulisan ini. Dilihat sekilas aja, udah ketauan kalo inti dari pesan tersebut adalah “keuntungan”. Nyebarin SMS tersebut ke sejumlah nomor, dapet pulsa gratis. Secara umum, orang emang mudah tergerak kalo mendengar hal-hal yang berhubungan dengan uang (dalam hal ini, pulsa gratis)--itu sebabnya pesan dalam SMS tersebut begitu “lengket” sehingga disebarkan kemana-mana. Kepemilikan uang yang lebih besar akan meningkatkan kualitas hidup, hal yang didambakan dan dibutuhkan semua manusia baik disadari maupun tidak, sehingga ide tentang kesempatan menyimpan uang lebih (bisa ngirit uang buat beli pulsa) pasti akan lebih mudah dipercaya orang dan akhirnya disebarkan.

Contoh lain adalah e-mail “manis” yang kuterima beberapa bulan lalu. Isinya, bahwa hari itu adalah hari persahabatan dan e-mailnya dikirimkan kepadaku karena si pengirim menganggapku sebagai temannya. Berikutnya, aku dianjurkan untuk meneruskan e-mail itu kepada semua orang yang kuanggap teman, termasuk si pengirim. Kalo aku gak nerusin e-mail itu ke dia, dapat disimpulkan bahwa aku gak menganggap si pengirim sebagai teman (“I’ll get the hint [that you’re not considering me as friend]”). Selain itu, ada juga info tambahan: kalo aku nerima paling sedikit delapan e-mail macam itu, berarti aku orang bersahabat (friendly).

Unsur e-mail ini ada dua: sanjungan (kau temanku) dan bahaya (kalo kamu gak ngirim balik e-mail ini ke aku, berarti aku bukan temanmu). Kalo udah menyangkut hubungan sosial, sebisa mungkin manusia akan berusaha memeperluas dan menjaga hubungan yang sudah terjalin. Dari sudut pandang memetika, ini karena berada dalam kelompok akan memperbesar kemungkinan untuk bertahan hidup dibandingkan dengan hidup sendiri. E-mail ini dijamin bakal diterusin ke paling sedikit satu orang, karena ancaman terselubung yang ada di dalamnya. Tentu aja aku nerusin e-mail itu ke si pengirim--gak enak kan kalo enggak?

Ada baiknya menerapkan prinsip “teliti sebelum mengirim” (atau lebih tepat “teliti sebelum mengirim”) dalam masalah ini. Apa pesan tersebut masuk akal? Apa ada unsur ancaman? Apakah informasi yang disampaikan disokong oleh keberadaan bukti yang memadai? Apabila jawaban dari salah satu pertanyaan tersebut adalah “Tidak”, pesan tersebut tak disangsikan lagi merupakan pesan berantai dan sebaiknya gak usah ditanggapi dengan serius. Percuma kan, membebani bandwith cuma untuk menyebarkan omong kosong?

Catatan: Tertarik ama dinamika penyebaran ide? Gak ada salahnya baca “Tipping Point” karya Malcolm Gladwell dan “Virus of the Mind” karya Richard Brodie. Secara pribadi, aku lebih suka “Virus of the Mind”--meskipun penyamaan akal budi manusia dengan binatang yang mencoba bertahan hidup ala biologi evolusioner mungkin bakal menyinggung banyak orang yang lebih sensitif daripada aku. Di sisi lain, “Tipping Point” jauh lebih mudah dimengerti karena banyak memuat contoh kasus. Tapi dua-duanya bagus kok. Jadi, silakan! Ini bukan promosi loh!

Tuesday, January 09, 2007

Bisik-bisik Tetangga

“Gossip” yang dibintangi Kate Hudson (sebelum dia seterkenal sekarang) sebenernya tidaklah istimewa. Film ini gak jauh beda dengan thriller remaja lainnya macam “Urban Legend” atau “Cruel Intentions” yang penuh dengan skandal asmara, konspirasi, tindak kriminal terselubung, dll. Yang menarik, film ini menggarisbawahi tiga hal penting mengenai gosip/rumor/kabar burung/desas-desus.

Pertama, orang sangat mudah percaya pada gosip meskipun kabar tersebut tidak didukung oleh keberadaan bukti sama sekali. Kedua, gosip jauh lebih mudah terdistorsi dibandingkan informasi lain yang valid karena para pendengar dan penyebarnya tidak pernah merasa perlu untuk mencari tau kebenaran di balik gosip tersebut. Ketiga, gosip bisa merusak (atau mendongkrak) reputasi seseorang.

Meskipun acapkali dikaitkan dengan ibu-ibu kurang kerjaan, gosip sebenenernya bukan monopoli mereka aja. Kalo mau jujur, kayaknya gak ada orang yang gak suka gosip. Apabila kemudian ada yang memilih untuk mengabaikan desas-desus karena gak mau terjebak dalam lingkaran penyebar gosip, itu lain soal. Singkat kata, selama manusia masih menjalin hubungan sosial dengan sesamanya, berbagai macam kabar burung akan tetap punya peluang untuk lahir dan tersebar.

Sayangnya, gosip yang dulu hanya merupakan “konsumsi terbatas” karena cuma disebarkan mulut ke mulut sekarang malah menjadi barang dagangan yang dipasarkan secara luas ke mana-mana. Ngerti maksudku, kan?!

Sejak runtuhnya Orde Baru, industri media berkembang begitu pesat. Jumlah televisi swasta nasional menjadi berlipat dua dalam tujuh tahun terakhir, belum lagi televisi swasta lokal. Media cetak, apalagi. Di tengah persaingan yang begitu ketat, media massa berlomba-lomba menyuguhkan sajian yang diperkirakan akan menarik minat orang banyak.

Dan suguhan apalagi yang bisa menarik banyak orang kalo bukan gosip, terutama gosip artis yang dikemas dalam wadah “infotainment”? Selain “menarik”, keunggulan lain gosip adalah, seperti tertera pada poin pertama di atas, gak perlu dibuktikan. Beda sama berita pada umumnya (dan seharusnya) yang memerlukan bukti-bukti kuat terlebih dahulu sebelum dirilis kepada khalayak, kabar burung seputar artis bisa ditampilkan begitu saja. Soal pembuktian, itu belakangan.

“Narasumber” yang ditampilkan pun kadangakala tidak kompeten: orang yang kebetulan tinggal bersebalahan dengan si artis, kenalan si artis (biasanya sih artis juga) yang sebenernya gak kenal-kenal amat ama yang bersangkutan, keluarga yang sebenernya gak tau apa-apa tapi sok tahu. dll.

Sesuai dengan prinsip kedua, informasi dari para “narasumber” justru berpotensi memperkeruh masalah. Dengan pengetahuan (atau ketidaktahuan) “narasumber” yang terbatas, mereka acapkali menyampaikan hal-hal yang gak relevan atau memberikan info yang bikin suasana makin panas. Inilah yang malah ditunggu-tunggu oleh para “wartawan” infotainment. Soalnya, jika berbagai narasumber justru menyatakan bahwa berita tersebut tidak benar maka gak akan ada berita lagi toh?

Tapi kalo mau adil, pemberitaan desas-desus yang gak jelas kebenarannya bukan cuma monopoli infotainment (bahkan kalo dirunut ke belakang, di awal keberadaannya infotainment gak kalah bertanggung jawab dalam pemberitaan dibandingkan jenis berita lainnya; bedanya cuma pada obyek berita yang melulu orang terkenal). Masih jelas dalam ingatan, seminggu yang lalu semua media massa ribut memberitakan penemuan pesawat Adam Air yang lenyap, lengkap dengan informasi mengenai 12 orang yang hidup dan 90 korban tewas.

Setelah kabar itu ternyata terbukti bohong belaka, mereka (media massa, maksudnya) sibuk menyalahkan Bupati Mandar (bener gak sih?) dan Kepala Desa X sebagai pejabat pemerintah yang udah menyampaikan informasi tanpa mengecek dulu kebenarannya. Oke, para pejabat itu emang salah, tapi bukannya media massa juga punya kewajiban untuk minta maaf karena udah menyebarkan berita bohong dan bikin keluarga korban yang sempat merasa lega jadi putus harapan lagi?!

Kesimpulannya, jangan mudah percaya pada apa yang kita lihat atau dengar. Dan jangan jadi penyebar gosip. Oke?

Catatan: Iya, aku juga salah satu penonton infotainment (bohong kalo bilang bukan). Tapi sekarang nontonnya udah dikurangin. Habis, tau sendiri lah--mudharatnya lebih banyak daripada manfaat yang didapat.

Wednesday, December 27, 2006

Web Log ala Reni

Semua orang yang ngebaca ini pasti tertawa terbahak-bahak, tapi--aku baru aja tau kalo blog itu sebenernya singkatan dari web log. Oke, silakan ketawa.

..............................................................................

Ngomong-ngomong soal log, itu bukannya produser musik rock asal Surabaya ya? (Itu mah Log Zhlebor! Gubrakssss...., ke laut aja lu Ren! Lelucon basi macam apa itu?!). He, he, he, bukan ding. Benda yang satu ini mengingatkanku pada cerita-cerita di buku atau film tentang penjelajahan samudera dan bajak laut. Seperti ini, nih:

Rabu, 12 November 17xx
Hari ini cerah. Sayang suasana di kapal tampaknya diliputi awan mendung. Sudah dua bulan kami tidak melihat daratan. Para awak mulai khawatir dengan keadaan ini, apalagi persediaan air semakin menipis. Aku harus bisa meyakinkan mereka, kalau tidak, hanya masalah waktu sampai mereka akhirnya memberontak....

Intinya, log itu adalah catatan harian. Aku gak tau apakah dalam dunia pelayaran seorang kapten kapal emang diwajibkan untuk punya log dan mengisinya secara teratur. Tapi walau gak diwajibkan pun, seorang kapten yang baik kayaknya bakal melakukan ini (bermanfaat sih). Syukurlah, soalnya banyak informasi berharga yang diperoleh lewat penelaahan log-log para kapten--bukan cuma tentang pemberontakan awak kapal kayak di film-film, tapi juga tentang keanekaragaman hayati, peristiwa dahsyat seperti meletusnya Krakatau, dll.

Kalo mau berpegang pada arti istilahnya, seharusnya yang namanya log itu--termasuk web log alias blog--berisi catatan kejadian sehari-hari yang dialami/ diamati oleh penulisnya. Namun demikian, kandungan “kejadian sehari-hari” dalam blogku ini justru dikit banget. Blog ini lebih banyak berisi pikiran-pikiran aneh(yang gak penting banget)ku tentang sesuatu. Lihat sendiri kan?! Diisinya pun gak tiap hari seperti layaknya sebuah log.

Tapi seperti kata Shakespeare, apalah arti sebuah nama? (Sebenernya sih berarti loh, berarti!) Kalaupun aku mengisi blog ini bukan dengan catatan harian, emangnya siapa yang mau ngelarang, hayo? Masih untung aku masih punya keinginan untuk menulis sesuatu (meskipun gak penting) daripada gak nulis sama sekali. Kalo gak suka, pergi aja sana (ini dunia maya yang bebas, gitu loh). Tapi kalo masih ada yang berkenan ngelirik atau bahkan membaca web log ala Reni ini, yuk ah: All aboard!

Sunday, December 24, 2006

Masih Peduli

Di saat aku dan pendukung lainnya akhirnya mulai merasa optimis dengan Manchester United untuk jadi juara Premier League musim ini, United malah kalah ngelawan West Ham--tim yang gak pernah menang selama entah berapa pertandingan dan baru aja ganti pelatih. Selisih lima angka dengan Chelsea akhirnya menyusut jadi dua. Nyebelin banget!

Mungkin orang gak ngerti, gimana mungkin aku--yang WNI (Warga Negara Inggris) pun bukan--bisa ngerasa kecewa/kesel berat cuma gara-gara kekalahan klub sepakbola dari negara di seberang samudera sana. Tapi gimana coba? Aku bisa jerit-jerit kayak orang gila di pagi buta saat ngeliat pemain United bikin gol dan sebaliknya, gondok abis kalo mereka kalah. Nyatanya, aku emang PEDULI ama United dan itu sebabnya kinerja mereka bisa membuatku terpengaruh secara emosional.

Peduli, itu kata kuncinya. Saat kita mempedulikan sesuatu atau seseorang, ada saatnya sesuatu/seseorang itu membawa kebahagiaan bagi kita. Namun, adakalanya juga kita dikecewakan olehnya. Pernah ngerasa bosen karena ortu ceramah yang itu-itu lagi? Jangan! Bersyukurlah karena itu tandanya ortu masih sayang dan perhatian ama kita. Kalo mereka udah gak peduli, dijamin kita mau ngapain aja mereka bakal cuek bebek.

Saat ini, aku yakin banyak di antara kita yang sedih/kesel/kecewa ngeliat keadaan Indonesia. Korupsi merajalela, aset negara dikuasai asing, kasus lumpur LAPINDO yang gak beres-beres, dan serangkaian masalah lainnya yang kalo dipaparin di sini gak bakal ada habis-habisnya. Tapi itu justru bagus! Ngerasa kesel ngeliat keadaan Indonesia, berarti kita masih peduli dengan negara kita ini. Bilamana ada yang peduli, masih ada harapan bagi kita untuk membuat perubahan dan menjadikan negeri ini lebih baik.

Yang mengkhawatirkan, justru apabila kita ngerasa semuanya baik-baik aja. Apabila kita ngerasa gak ada yang perlu dikhawatirkan karena kita masih bisa hidup enak meskipun ada segudang masalah yang menimpa negeri ini. Karena, itu bisa jadi tanda awal bahwa kita udah gak peduli lagi. Tapi jangan-jangan, gejala ini udah tampak di kalangan pejabat ya?!

Catatan: Untungnya, kemaren United menang 0-3 dari Aston Villa. Yah, mudah-mudahan mereka bisa terus main bagus dan gak kalah lagi sampe akhir musim. Hidup United!

Friday, December 08, 2006

Curhatan Gak Bermutu

Dewi “Dee” Lestari (tau kan, penulis Supernova & mantan RSD) pernah bilang, dia gak pernah mencari ide. Ide ada di mana-mana; soal apakah dia bisa “menangkap” ide tersebut atau tidak, bergantung dari kepekaannya terhadap keberadaan ide-ide itu. Ternyata, memang begitulah adanya.

Sejak aku mulai menulis dengan rutin di sini, aku merasa jadi lebih peka terhadap ide. Aku merasa HARUS selalu menulis sesuatu sehingga akhirnya aku memandang semua hal dengan kritis. Kenapa ini bisa terjadi; harusnya gimana; pendapatku tentang hal itu; dsb. Tentu aja keluarannya gak sebanding dengan orang lain yang udah terbiasa menulis, tapi lumayanlah, sebagai latihan untuk berpikir kritis.

Sayangnya, udah sebulan ini aku gak sempat nulis apapun di blog ini. Percaya atau enggak, aku bener-bener sibuk. Ada kerjaan lain yang lebih penting, misalnya ujian pemrograman yang cukup bikin aku ketar-ketir, nyiapin resume, dll. Akibatnya, kepekaanku terhadap ide sekarang jauh menurun. Beberapa bulan lalu, ide-ide gila bisa berdatangan waktu lagi naik angkot, waktu lagi nungguin temen di kampus; kapanpun dan dimanapun, deh. Tapi sekarang, bahkan saat aku berpikir keras pun, ide yang menarik sama sekali gak muncul.

Tapi, ide emang harus dijemput. Kalo aku terus-menerus mengharapkan kemunculan ide spektakuler, kayaknya blog ini gak bakalan diisi dan aku gak bakal melangkah kemana-mana. Kesimpulan pertama, menulis harus dibiasakan; kalo enggak, untuk memulainya lagi bakalan susah. Kesimpulan kedua, saat ini aku belum bisa menangkap ide brilian untuk membuat tulisan yang keren, karena kepekaanku sudah menurun (lagi). Kesimpulan ketiga, curhatan gak mutu macam ini masih lebih mending daripada gak nulis sama sekali. Ya, sudahlah. Mudah-mudahan tulisan berikutnya jauh lebih keren. Cabut dulu ah!

Thursday, November 02, 2006

........*..

Manusia itu emang kurang ajar banget deh. Saat Allah hanya menilai orang dari ketakwaannya, manusia justru menilai orang dengan berbagai parameter yang sering tidak seharusnya digunakan untuk menilai seseorang. Bingung?

Gini nih. Kalo dari sudut pandangku (bukan menurut Allah ya; kalo itu sih gak tau), ketakwaan menentukan kualitas hidup seseorang. Bagaimana dia menjalani hidupnya, mempengaruhi hidup orang lain/masyarakat, berperilaku terhadap lingkungan (hasilnya baik atau buruk?)--itu semua erat banget dengan “ketakwaan”; jadi wajar aja kalo “ketakwaan” itu dinilai dan dijadikan faktor pembeda.

Sebaliknya, manusia acapkali membedakan orang lain berdasarkan kriteria seperti asal-usul, tampang, status sosial dan kemudian membuat penilaian berdasarkan kriteria superfisial (Bahasa Indonesianya? Permukaan? Gak cocok ah!) macam itu. Penilaian superfisial yang kemudian mengakibatkan pembedaan perlakuan.

Itu tuh yang namanya diskriminasi. Diskriminasi muncul dalam berbagai bentuk dan rupa, tapi secara umum berakar dari dua hal: menganggap remeh orang lain dan ketidakpedulian.

Contoh bagus (jelek sih, sebenernya) tentang ini tampak dari peristiwa yang menimpa seorang alumnus Universitas Airlangga (Unair) baru-baru ini. Sang alumni ini mengalami kecelakaan sewaktu ia masih kuliah sehingga akhirnya kakinya harus diamputasi. Namun, keterbatasan ini sama sekali tidak menghalanginya dan ia berhasil lulus dengan menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Lulus dengan pujian (Cum Laude = dengan pujian) pula. Sayangnya, prestasi akademik yang baik sama sekali tidak dihiraukan oleh para pencari jasa. Begitu melihat bahwa orang ini “cacat”, langsung ditolak. Akhirnya, ia memutuskan untuk melamar pekerjaan di almamaternya--Unair. Tak disangka, tak dinyana, ia ditolak juga oleh almamaternya. Almamater yang tanpa ragu memberinya pujian saat lulus, namun sekaligus menganggap bahwa ia tidak layak bekerja di sana--terlepas dari segala prestasi akademis sang alumnus--hanya karena dia “cacat”.

Terserah Unair mau bilang apa, tapi yang jelas mereka telah berlaku diskriminatif. Mungkin mereka menganggap bahwa “kecacatan” seseorang akan mengganggu kinerjanya, entah bagaimana caranya; jadi buat apa mempekerjakan orang macam itu? Mungkin juga mereke berpendapat, untuk apa repot-repot mempekerjakan orang “cacat” yang mungkin bakal ngeribetin dengan segala kebutuhan khususnya, gak peduli seberapa mampunya dia, pada saat masih banyak orang lain yang “gak cacat” untuk dipekerjakan? Variasi alasannya bisa banyak; tapi balik lagi, semuanya berakar dari perasaan meremehkan orang lain dan ketidakpedulian.

Diskriminasi biasanya dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap minoritas, seperti pada contoh di atas. Soalnya, saat kita menjadi bagian dari mayoritas, ada kecenderungan untuk menganggap orang-orang yang berbeda dengan kita “aneh”, entah disadari atau tidak; yang ujung-ujungnya bisa mengakibatkan timbulnya perasaan meremehkan atau tidak mempedulikan.

Tapi jangan salah loh, bukan berarti gak ada diskriminasi minoritas terhadap mayoritas. Inget sistem politik apartheid? Atau kolonialisme Belanda di negara kita yang membagi-bagi masyarakat ke dalam berbagai golongan (dengan hak dan kewajiban yang berbeda pula)? Tentu saja, kalo melihat kedua contoh itu kita mungkin mendapat kesan bahwa diskriminasi macam ini adalah peninggalan masa lalu. Kalo saat ini masih ada diskriminasi minoritas terhadap mayoritas, pasti banyak yang protes dan kalo banyak yang protes, pasti tindakan diskriminatif itu bisa segera dibasmi. Bener kan?! Salah.

Sampai sekarang, aku masih denger perusahaan yang mengutamakan “keanggotaan dalam kelompok etnis tertentu” dalam perekrutan karyawannya. Katanya sih karena anggota kelompok etnis ini tuh rajin dan berdedikasi tinggi, beda ama anggota kelompok etnis lain yang dianggap pemalas. Bisa juga karena alasan “kekeluargaan”; artinya karena anggota kelompok etnis ini pada dasarnya adalah keluarga besar dan keluarga harus saling menolong, jadi merekalah yang diutamakan. Terserah deh. Tapi sebetulnya alasan mereka lagi-lagi variasi dari: menganggap rendah orang lain dan ketidakpedulian.

Atau yang lebih miris lagi, diskriminasi yang dilakukan secara tidak sadar (atau sadar?) dalam bentuk liberalisasi pendidikan. Lembaga pendidikan milik negara “dipaksa” menjadi badan hukum yang berdiri sendiri, yang harus mencari sumber dana operasional dll sendiri. Akhirnya, biaya kuliah makin mahal, dibuka jalur khusus yang uang pendaftarannya hanya sanggup dibayar oleh orang-orang kaya yang jumlahnya di Indonesia ini minoritas. Dan makin banyak orang Indonesia yang gak bisa mengenyam pendidikan karena gak sanggup membayar biayanya. Apa bukan diskriminasi minoritas terhadap mayoritas tuh namanya?

Catatan: Ada yang bisa nebak gak, kenapa judulnya “........*..”?

Sunday, October 15, 2006

Untuk Tujuh Turunan

Apa persamaan Pengepungan Osaka 1614-1615 dengan mahasiswa SBM-ITB? Sekilas emang sama sekali gak ada hubungannya, tapi aku berhasil menemukan persamaan di antara keduanya secara ajaib. Bukan karena aku nyari-nyari loh, tapi benang merah itu tiba-tiba saja terlihat jelas di pikiranku. Oke, mulai aja deh!

Mahasiswa S1 SBM-ITB itu kaya-kaya. Orang tuanya, maksudku. Program S1 SBM-ITB yang dibuka sejak tiga tahun lalu menerima 100% mahasiswanya lewat jalur USM (yang juga dikenal sebagai jalur 45 juta, meskipun para mahasiwa yang berhasil masuk semuanya nyumbang lebih dari itu). Uang bayaran mereka juga dihitung per-SKS yang diambil, bukan pukul rata seperti mahasiswa program studi lain di ITB; kayak di perguruan tinggi swasta gitu deh. Bukti nyata dari pernyataanku di atas (“Anak SBM kaya-kaya”) bisa dilihat di pintu masuk kampus ITB sebelah barat (yang deket dengan gedung SBM) yang sejak tiga tahun terakhir ini makin disesaki oleh mobil-mobil mewah (!) yang terparkir di sana.

Udah jadi rahasia umum bahwa di antara jurusan-jurusan IPS yang paling menjanjikan dari segi materi, jurusan Bisnis dan Manajemen adalah satu di antaranya. Apalagi bagi para lulusan perguruan tinggi terkemuka, pekerjaan yang bergengsi dan gaji yang menggiurkan bisa dibilang sudah di depan mata. Tapi, aku gak heran kalo mahasiswa SBM-ITB itu ada (atau banyak) yang ortunya merupakan pimpinan puncak perusahaan atau malah pemiliknya; dan mereka dipersiapkan untuk menggantikan/meneruskan kejayaan keluarganya.

Dari sini, izinkanlah aku melompat ke belahan dunia lain dan mundur beberapa abad untuk memaparkan masalah yang tampaknya tidak berhubungan sama sekali dengan anak-anak SBM-ITB (meskipun sebenarnya ada, menurutku): Pengepungan Osaka.

Kira-kira empat ratus tahun lalu, di awal abad ke-17, pemerintahan Jepang dipimpin oleh keluarga (klan? dinasti? emang apa bedanya sih?) Tokugawa. Sama seperti sekarang, Kaisar Jepang duduk dengan tenang di istananya di Kyoto; menikmati (?) kedudukannya sebagai setengah dewa.

Saat itu, (mantan) Shogun Tokugawa Ieyasu mulai merasa khawatir dengan menguatnya pengaruh keluarga Toyotomi (kisah tentang bagaimana keluarga Toyotomi berhasil menancapkan pengaruh dan mengumpulkan, ehm, harta yang melimpah terlalu panjang untuk diceritakan di sini). Pengaruh Toyotomi begitu besar sampai-sampai ada yang berpendapat bahwa lebih baik mereka, dan bukan Tokugawa, yang diserahi tugas memimpin pemerintahan.

Dalam sebuah organisasi (dalam hal ini, negara), hanya boleh ada satu pemimpin tertinggi karena bila hal ini tidak terpenuhi, kekompakan seluruh organisasi yang jadi taruhannya. Oleh sebab itu, sangat wajar apabila Ieyasu berpendapat bahwa sentimen tersebut mengancam persatuan negara dan Toyotomi harus dipaksa untuk mengakui kekuasaan Tokugawa. Itu kalo mau berbaik sangka. Tapi, gak terlalu berlebihan juga untuk menduga bahwa unsur “mementingkan diri sendiri” juga ada dalam pikiran Ieyasu. Gak mungkin kan, dia rela-rela aja kekuasaan keluarganya diancam oleh pihak lain? Demi kelanggengan kekuasaannya (dan juga anak cucunya di masa depan), dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Singkat kata, karena cara halus tidak berhasil, akhirnya Tokugawa menyerbu istana Toyotomi di Osaka (tentu saja, setelah mereka menemukan alasan yang cukup “kuat” untuk menyerang Toyotomi). Penyerbuan tersebut berakhir dengan musnahnya keluarga Toyotomi dan Tokugawa bertahan sebagai pimpinan pemerintahan sampai Restorasi Meiji dua setengah abad kemudian.

Kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa manusia punya naluri untuk mempertahankan apa yang dia punya dan kalo bisa sih diwarisin buat anak-cucu, meskipun dalam tingkat yang berbeda. Itu sebabnya ortu para mahasiswa SBM-ITB gak keberatan ngeluarin biaya yang relatif besar (bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kalo bagi mereka sih mungkin kecil) untuk ngebiayain anaknya supaya anaknya bisa sukses dan tetap hidup enak. Itu sebabnya Tokugawa Ieyasu memutuskan untuk menyerang Toyotomi di Osaka, karena dia pingin mempertahankan dan mewariskan kekuasannya untuk anak-cucu.

Kapanpun zamannya, dari manapun asalnya, dan meski dalam skala yang berbeda-beda, ternyata kalo udah soal harta dan tahta: manusia itu sama aja!

Catatan: Bukan, aku bukan penganut paham sosialisme atau yang semacamnya. Aku cuma mengungkapkan pendapat berdasarkan apa yang kulihat. Gak ada maksud untuk menyinggung orang lain juga. Tapi kalo ada yang gak setuju atau ada yang ngelihat “ketidakakuratan” dalam tulisanku, silakan memberi kritikan! Terakhir, makasih buat Eko yang udah minjemin DVD-nya (sehingga memberi aku inspirasi buat nulis ini).

Wednesday, September 13, 2006

Bahasa Kita

Beberapa tahun lalu, harian “Pikiran Rakyat” memuat sebuah artikel yang ditulis oleh seorang dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dalam artikelnya, sang penulis mengecam kebiasaan anak muda zaman sekarang yang enggan berbicara dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahkan sering mencampuradukkan bahasa asing dengan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Tidak lama setelah artikel itu dimuat, muncul artikel “balasan” yang pada intinya menyatakan bahwa tindakan tersebut (mencampuradukkan berbagai macam bahasa) bukanlah tindakan yang patut dikecam. Argumen yang dikemukakan oleh penulisnya, seorang mahasiswa, adalah bahwa fungsi utama bahasa adalah alat komunikasi. Jadi, selama semua pihak yang terlibat saling memahami maksud satu sama lain, apa salahnya menggunakan bahasa yang campur aduk?

Sebagai orang yang sering menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar, aku tepuk tangan dengan alasan yang dikemukakan si mahasiswa. Kesannya mencari pembenaran sih, tapi hal yang dikemukakannya memang benar adanya. Tapi di sisi lain, aku ngerti banget dengan “kesewotan” banyak orang yang gak suka melihat/mendengar penyisipan istilah/kata-kata asing dalam teks Bahasa Indonesia; padahal istilah tersebut ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. Masalahnya, bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi (meskipun fungsi utamanya memang itu) namun juga merupakan identitas diri.

Sekumpulan orang baru bisa bersatu apabila mereka memiliki persamaan, entah itu persamaan kepentingan, latar belakang, peran dalam masyarakat; intinya sih, harus punya persamaan. Masyarakat Nusantara sepakat (?) untuk bersatu dan membentuk negara yang disebut ”Indonesia” karena persamaan nasib: sama-sama pernah dijajah Belanda. Itu sebabnya Kalimantan bagian utara gak termasuk Indonesia, soalnya wilayah itu dulu dijajah Inggris. Tapi gak lucu kan, kalo para pendiri negara ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia bersatu karena persamaan nasib?

Kalo kita liat Sumpah Pemuda, ada tiga unsur yang dinyatakan sebagai pemersatu yaitu bangsa, tanah air, dan bahasa. Dua unsur yang pertama merupakan konsep yang abstrak, gak ada wujudnya. Beda dengan bahasa. Bahasa Indonesia bisa didengar, diucapkan, ditulis. Jelas. Bahasa Indonesia merupakan penanda identitas nasional yang paling nyata.

Namanya juga bahasa persatuan, jadi idealnya Bahasa Indonesia bisa menyatukan seluruh bangsa Indonesia (terlepas dari perbedaan suku) karena di manapun sama aja. Tapi kenyataannya Bahasa Indonesia bisa punya berbagai versi (versi, bukan logat) bergantung pada penuturnya. Anak muda pake bahasa prokem, para sosialita pake bahasa gado-gado (bahasa asing, biasanya Bahasa Inggris, bercampur aduk dengan Bahasa Indonesia). Melihat fenomena tersebut, kekhawatiran para pemerhati Bahasa Indonesia sebenarnya sangat bisa dipahami. Apakah Bahasa Indonesia masih bisa mempersatukan kita apabila versinya aja udah beda-beda? Apakah kita masih bisa mempertahankan identitas nasional kita saat Bahasa Indonesia udah terlalu banyak "terkontaminasi" oleh bahasa asing?

Pendapatku soal masalah ini?

Aku bisa ngerti kenapa banyak orang yang sewot dengan menggejalanya penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Di sisi lain, aku juga bisa memahami kenapa banyak yang melakukan hal tersebut. Bahasa prokem, bahasa gaul, bahasa gado-gado atau apapun namanya, lahir karena masyarakat merasa nyaman menggunakannya; lahir karena kebutuhan. Yang penting, gunakanlah bahasa tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi. Gak ada salahnya berbicara dengan Bahasa Indonesia yang gak resmi dan "ancur-ancuran"; tapi kalo lagi ngomong di forum resmi atau nulis karya ilmiah, usahain pake Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan lupa!

Tuesday, August 29, 2006

(+) dan (-)

Manusia diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan. Tapi di dunia ini bukan hanya manusia yang diciptakan berpasang-pasangan. Segala hal di alam ini merupakan paduan dari dua hal yang berlawanan. Keduanya saling melengkapi. Yang satu jadi gak berarti apabila yang lain gak ada.

Contohnya kejadian Kamis lalu. Hari itu diawali dengan menggembirakan karena aku menyaksikan di berita bahwa Manchester United baru aja ngalahin Fulham 3-0. Bukan hanya itu, Chelsea juga dibabat Middlesbrough 1-2. Seakan itu belum cukup, sorenya aku disambut dengan berita gembira lain saat “Bos” Wiwin memberi kabar bahwa dia lulus ujian. Sayangnya, memang sudah hukum alam bahwa segala sesuatu itu diciptakan berpasang-pasangan. Sore itu juga, aku menerima kabar bahwa dua orang teman baikku gak lulus ujian penelusuran pustaka.

Keberuntungan dan kemalangan, keberhasilan dan kegagalan; semuanya merupakan “Hukum Alam” yang akan datang silih-berganti, entah kita menerimanya dengan senang hati ataupun tidak. Apakah kita ngerasa sedih pada waktu siang berganti malam atau sebaliknya? Enggak kan, soalnya kita udah sadar benar bahwa pergantian malam dan siang merupakan ketentuan Allah yang tak terbantahkan. Hukum alam. Jadi logikanya, kita harus bisa menerima keberuntungan/kemalangan dan keberhasilan/kegagalan dengan lapang dada sama seperti saat kita menyaksikan malam berganti siang atau sebaliknya.

Namun, selain rasional manusia juga merupakan makhluk yang emosional. Kesedihan yang dirasakan saat mengalami kegagalan merupakan reaksi yang wajar pula. Hanya saja, jangan sampai berlarut-larut dalam kesedihan. Dan cara yang paling ampuh untuk bangkit dari rasa sedih adalah berpikir rasional. Ingat bahwa kegagalan adalah hal yang adakalanya tak terhindarkan. Ketentuan Allah yang harus dijalani. Hukum alam.

Pendekatan inilah (berpikir rasional; ingat bahwa keberhasilan dan kegagalan sama-sama merupakan “Hukum Alam”) yang membuatku tetap optimis menghadapi statusku sebagai mahasiswa yang lulusnya telat. Kalo aku bersikap emosional dan terus-terusan menyalahkan orang lain ataupun diri sendiri, bisa-bisa yang ada stres jadinya. Siapa tau, di balik sesuatu yang (tampaknya) negatif ada hal positif yang bisa kita ambil. Dan mungkin pula, sesuatu yang positif ternyata membawa hal negatif. Yin&Yang. (+) dan (-). Dua sisi kehidupan yang tak terpisahkan.....

Nuhun Pisan!

Alhamdulillah, setelah sepuluh semester (!) dan melewati berbagai masalah, akhirnya aku lulus juga. Tadi baru aja aku sidang dan siang ini langsung diumumin hasilnya. Sayang sekali, kebijakan SF-ITB gak ngebolehin mahasiswa untuk mengucapkan terima kasih dengan panjang lebar di buku TA. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk menuliskan ucapan terima kasihku kepada semua pihak yang udah membantuku melewati masa-masa sulit di sini.

Allah SWT – yang sudah berkehendak agar aku lulus tahun ini dan atas segala pelajaran yang diberikan-Nya kepadaku.
Orang tuaku – yang udah bersabar menghadapi “kebandelan” anaknya dan rela menyediakan segalanya demi anaknya.
P’Dani & P’Sigit – yang udah menyelamatkanku dari jurang ke-nggakjelasan dan dengan penuh kesabaran “nguber-nguber” aku saat aku memutuskan untuk kabur.
P’Toto dari Fisika LIPI – yang udah ngukurin sampelku, termasuk sampel buat DSC yang jumlahnya 15 biji (!).
Dosen-dosen Sostek – yang mengajariku untuk melihat dunia dari sisi lain.
Pustakawan di Perpus Pusat dan SF ITB – yang udah nyariin dan minjemin buku-buku berharga.
Wida, Rani & Riri – teman-teman seide yang sering banget mendengar ide-ide gilaku.
Shofi – yang koleksi DVD dan keanggotaannya di Ardent sering kupinjem, yang udah nularin aku “demam Korea”, yang kosannya sering ditempatin buat belajar/nonton bareng dan ditebengin, temen nonton.
Wiwin – yang koleksi DVD/bukunya sering kupinjem, yang kosannya sering ditebengin buat belajar/nonton/makan baso.
Kiki – yang ngobrolnya seru dan enak diajak diskusi.
Neti – sesama pecinta Harry Potter dan baso Mandeep.
Lala – yang bijaksana banget, meskipun kadang gubrak juga.
Miza – yang keanggotaannya di Pitimoss sering kupinjem.
Inge – yang membawa makanan enak dan gosip hangat di acara belajar bareng.
Dhita & Nilam – yang udah memberi dukungan moral selama TA, yang barang-barang dan lacinya kupinjem dan kutebengin, yang udah ngajakin belajar bareng.
Ika – yang buah pikirannya banyak memberikan pencerahan.
Yeyen – temen ngobrol ngalor-ngidul berjam-jam.
Clare – yang selalu bersedia memberikan informasi.
Aam, Teja & Lita – temen se-KK yang sering ditanya-tanya dan dimintain tolong.
Lidya – yang ovennya sering kupinjem.
Murat – yang menerima teror SMS dariku.
Anto – yang rutin beli Animonster dan ShonenMagz, termasuk pas aku gak punya duit.
P’Badi – yang udah menangkap tikus dan bersedia ngepel lantai lab meskipun segera sesudah itu langsung kuinjek-injek lagi.
Orang-orang di Ardent dan Pitimoss – udah minjemin VCD, DVD, dan buku-buku yang oke punya.
J. K. Rowling – yang udah menciptakan dunia ajaib dan membaginya dengan semua orang.
Paolo Coelho – yang memberikan keberanian lewat ceritanya.
CLAMP – yang meskipun ceritanya aneh-aneh tapi dalem banget.
Kobayashi Jin & Fujio Akatsuka – yang manganya bikin aku ketawa terbahak-bahak.
Watsuki Nobuhiro – yang ceritanya menghibur dan informatif.
Elex, Level Comics, M&C – yang udah nerbitin manga yang seru-seru.
Radiohead & kontributor OST Card Captor Sakura – yang musiknya memberi inspirasi, juga nemenin aku pas belajar dan ngerjain tugas.
Para pemain Manchester United – yang kerja kerasnya untuk meraih kemenangan selalu menghiburku (sekaligus juga bikin bete kalo mainnya gak sungguh-sungguh).
National Geographic – yang menghadirkan dunia.
Para penulis di FanFiction.Net – yang udah bikin cerita yang seru sampe yang enggak banget, tapi tetep menghibur (cukup menghibur untuk bikin aku ketagihan).
HOLers – yang udah berbagi kegilaan terhadap Potterverse.
Blogspot – yang udah menyediakan lahan untung menuangkan pikiran-pikiran anehku.

Nuhun pisan sadayana!