skip to main |
skip to sidebar
Aku sering kali kesal karena hal sepele, misalnya karena mendengar pertanyaan bodoh reporter TV. Walau begitu, ternyata hal sepele juga bisa membuatku gembira tak terkira.
Beberapa minggu lalu, terjadilah peristiwa yang menyebalkan. Saking menyebalkannya, pikiranku jadi terganggu. Bukan "terganggu" dalam arti "gak waras", tapi "membuat mood-ku jadi gak enak setiap kali teringat".
Malam itu, kusambungkan komputerku dengan internet dan berselancar. Tanpa sengaja aku menghapus pesan penting dari milis yang sebenarnya bakal ku-forward ke orang-orang. Jadi, aku terpaksa harus buka halaman mukanya Yahoo!Groups. Tapi tak disangka-sangka, aku melihat foto "menarik" di kiri bawah halaman tersebut.
Nah, foto ini sesungguhnya biasa-biasa aja, bagi orang yang tidak mengetahui. Tapi karena aku maniak, foto ini membuatku cengar-cengir sendirian kayak orang gila.
Foto tersebut menampilkan enam orang anak muda. Yang tertua mungkin baru berumur 23 tahun (dan baru-baru ini merayakan ulang tahunnya yang ke-36; Happy Birthday, Giggsy!) dan yang paling muda 18 tahun-an lah. Karena aku gak tahu apa-apa (dan gak peduli) tentang mode, aku gak tahu apakah gaya rambut mereka itu tampak jadul pisan atau enggak. Yang jelas, mereka semua terlihat sangat muda dan tak berdosa :p.
Otak manusia sangatlah luar biasa dalam membuat asosiasi. Melihat foto itu, aku jadi inget diriku dan hal-hal gak penting yang kulakukan di pertengahan '90-an. Nonton MTV (yang tayangan musiknya masih cukup variatif) sambil berleha-leha sepulang sekolah, ngantre buat beli majalah Kawanku (sekarang namanya W, ya?!) tiap hari Senin, dihukum bareng temanku Ida (yang sekarang jadi Bu Guru :D) gara-gara telat, duduk di kerimbunan pohon di Jl. Otten sambil nungguin angkot Stasiun-Gunung Batu yang gak kunjung datang, memutar ulang What's the Story Morning Glory sampai entah berapa juta kali, dan--tentu saja--menghabiskan Sabtu dan Minggu malam dengan nonton pertandingan Liga Inggris di SCTV/ANTV/Indosiar.
Sejujurnya, masa SMP-ku gak segitu menyenangkannya. Malah, banyak hal yang tidak terlalu mengenakkan. Tapi karena foto itu berasosiasi langsung dengan kenangan menyenangkan, hal-hal lain yang membahagiakan pun muncul bersamanya.
Pokoknya, selama beberapa hari berikutnya, setiap kali aku teringat hal menyebalkan itu, aku langsung memikirkan foto gak penting téa. Dan perasaanku otomatis jadi jauuuuh lebih baik. Hebat ya, hehehe :D.
Sekelompok anak muda yang bikin rusuh di stadion--kataku itu gak keren. Tapi gaya mereka emang keren: pullover/sweter + jaket parasut/jaket kulit + celana jins lurus yang mengecil di bagian bawah (kayak yang sekarang lagi mode) + sepatu Adidas putih bergaris hitam + rasa percaya diri yang luar biasa.
Apa pun alasannya--karena kelompok itu keren atau apalah--sejak melihat mereka beraksi di stadion dalam pertandingan kandang, Paul Carty (Nicky Bell) bertekad untuk bergabung dengan The Pack. Dia pun merongrong teman barunya--Mark "Elvis" Elways (Liam Boyle), seorang anggota The Pack--supaya diperbolehkan jadi bagian dari mereka. Elvis sebenernya gak setuju karena menurutnya temen-temennya brengsek (dan Carty "orang baik"). Tapi, berhubung si Carty maksa melulu, akhirnya dia dipertemukan dengan para anggota lain dan diajak ikut ke pertandingan tandang klub sepak bola yang mereka dukung.
Meskipun sempat dianggap kacangan oleh anggota-anggota yang lain, Carty akhirnya mendapatkan rasa hormat mereka waktu dia dengan berani menerobos barikade polisi dan menyilet seorang anggota firm tandingan (walau sebelumnya dia ditendangin rame-rame sih). Sementara Carty merasa makin nyaman dan semakin diterima dalam The Pack, Elvis justru kian mengkhawatirkannya dan mendesaknya untuk pergi.
Nah, sedikit informasi buat yang gak tahu apa itu firm. Firm adalah kelompok suporter sepak bola yang militan. Mereka gak segan-segan berkelahi, merusak tempat umum, atau bahkan "menghabisi" suporter tim lawan. (Gak percaya? Coba tengok kasus kerusuhan saat Liverpool melawan AC Milan di Final Piala Champions Eropa 1985 di stadion Heysel, Belgia, yang menewaskan 39 orang. Dan itu baru kasus yang paling terkenal aja.) Biasanya firm punya struktur organisasi yang lumayan rapi. Mereka bahkan punya "cabang" khusus untuk remaja/anak-anak di bawah umur (dulu sih gitu, tapi gak tahu sekarang). Bayangkan Bonek, tapi terorganisir.
Yang menarik adalah, walaupun Awaydays berkisah tentang sekelompok pendukung tim sepak bola, pertandingan sepak bola sama sekali gak ditampilkan di film ini. Sepertinya aku tahu kenapa. Kendati keberadaan firm dan hooliganism gak bisa dilepaskan dari sepak bola, bukan fanatisme semata yang mendorong orang-orang untuk melakukan kekerasan. Ada yang ikutan karena mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu, kayakseperti Elvis dan Carty). Ada yang pingin menemukan tempat untuk melampiaskan kesadisannya, seperti si Baby (Oliver Lee)--yang belakangan ngebunuh John Godden (Stephen Graham), koordinator mereka, dan menyilet Carty untuk balas dendam karena udah dipermalukan. Jadi, sering kali motif non-sepak bolalah yang memicu tindakan brutal mereka.
Pada akhirnya, Elvis dan Carty gak memperoleh apa yang mereka inginkan. Carty menyadari bahwa meski keinginannya bergabung dengan The Pack terwujud, kenyataan gak seindah harapannya. Elvis menyadari bahwa mereka cuma segerombolan preman kejam (setelah mereka rame-rame menghajar cowok-cowok yang memperkosa adik perempuan Carty, dia bilang, "Kita seperti mereka..."), terjerumus semakin dalam ke keputusasaan dan kesepian, sampai akhirnya bunuh diri (dia masih menyempatkan diri mengakui perasaannya ke Carty--sambil teler--di gereja setelah upacara pemakaman John; mungkin dia suka Carty karena Carty-lah satu-satunya orang tempatnya bisa menceritakan isi hatinya dengan jujur).
Nongkrong bareng ama temen-temen sesama penggemar klub kesukaanmu harusnya menyenangkan, tapi dalam kasus mereka berdua, ternyata enggak. Seperti kata Elvis kepada Carty (yang mungkin mencerminkan perasaannya tentang dirinya sendiri), "Kamu datang dan pergi. Mereka (The Pack) gak bener-bener tahu siapa kamu." Dengan kata lain, para anggota firm itu bukanlah teman sejati yang mereka cari-cari.
Miscellany:
- Stephen Graham main di Snatch sebagai Tommy si penjahat kelas teri yang lugu/agak bodoh--beda 180 derajat dengan karakter di film ini. Keren lah, Pak.
- Waktu nonton di CCF kemaren, di antara sekelompok orang anggota United Indonesia yang ber-jersey MU, gak satu pun yang pake seragam pemain belakang. Rio Ferdinand yang terkenal aja gak ada, apalagi Gary Neville (meskipun dia kapten tim)!
- Film rite-of-passage (perjalanan menuju kedewasaan lah, kira-kira)favoritku: War of the Buttons.
Inilah yang tertulis di sampul belakang Dengarlah Nyanyian Angin--Kaze no Uta o Kike--terbitan KPG: "Aku...terobsesi dengan seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri. Kekasih Aku gadis manis...tapi tak ragu-ragu menggugurkan janin...yang entah siapa ayahnya. Sobat kental Aku, Nezumi, anak hartawan tapi muak dengan kekayaan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Mereka bertiga melewatkan delapan belas hari yang tak terlupakan pada suatu musim panas...."
Sepertinya harus diralat sedikit. Pertama, si cewek bukanlah kekasih Aku. Atau paling tidak, menurutku si Aku gak menganggap cewek itu sebagai pacarnya. Kedua, kayaknya "menenggelamkan diri dalam alkohol" untuk menggambarkan kebiasaan si Nezumi (bahasa Jepang: tikus) nongkrong di bar terlalu berlebihan deh. Ketiga, dan yang paling penting, adalah "delapan belas hari tak terlupakan".
Secara logika, tentu saja delapan belas hari itu tak terlupakan, karena kalo enggak, gak mungkin si Aku mengisahkannya kan. Tapi jika benar delapan belas hari itu tak terlupakan, pertanyaannya adalah: apa sih yang begitu mengesankan pada musim panas itu sampai-sampai ia layak menyandang predikat "tak terlupakan" (kecuali pertemuan dengan cewek yang jari tangannya cuma sembilan, tapi sesudah musim panas itu dia dan Aku gak pernah ketemu lagi; perjumpaan dengan cewek itu pun gak ngasih pengaruh apa-apa dalam hidup Aku--setidaknya begitulah yang kutangkap)? Jawabannya: gak ada. Justru itulah intinya.
Tau gak, apa aja yang dikerjain si Aku selama delapan belas hari itu? Nongkrong di bar sambil minum-minum, ngobrol, dan makan kacang; jalan-jalan; dengerin radio; mengingat-ingat masa lalu. Biasa banget kan?! Waktu baca buku ini, aku ngerasa, mungkin memang itu yang ingin disampaikan Murakami-sensei. Bahwa waktu terus mengalir. Bahwa hidup kita biasa-biasa aja. Bahwa kesadaran akan hal itu terasa menyakitkan. Dsb, dsb, dsb.
Tapi, gak ada yang berubah meskipun kita menyadari bahwa hidup kita biasa aja, bahwa kita akan terus bertambah tua tanpa mencapai apa pun yang berarti dalam hidup, dst. Jadi, sebaiknya kita terima aja kondisi itu. Sebagian orang mengatasinya dengan menulis (Aku dan Nezumi menulis untuk menumpahkan sebagian kecil pemikiran yang bikin otak mereka ruwet dan untuk melapangkan hati). Sebagian orang akhirnya gak tahan dan mereka pun bunuh diri. Sebagian lagi gak menyadari apa-apa, tapi ketidaktahuan itu toh gak berpengaruh apa-apa terhadap hidup mereka. Kita semua sama saja. (hal 110)
Di sampul belakang buku, disebutkan juga bahwa novel ini mengisahkan anak-anak muda Jepang yang antikemapanan dan tidak punya gambaran ideal tentang masa depan. Dibandingkan dengan novel-novel yang sekarang sedang in--tentang anak-anak muda yang harus menempuh berbagai kesulitan sebelum akhirnya dapet beasiswa ke luar negeri/sekolah di perguruan tinggi ternama, serta masa mahasiswa mereka yang "penuh warna", dan kesuksesan mereka selepas lulus kuliah--Dengarlah Nyanyian Angin memang tampak suram dan tak berarti. Tapi, aku lebih suka cerita ini. Soalnya, suasana batinku lebih mendekati suasana batin novel ini. Mau dibilang antikemapanan, pemuda kelas menengah yang kebingungan, gak punya visi, terserah lah. Maaf aja seandainya kami tidaklah sekeren anak-anak muda "inspiratif" yang kehidupannya diceritain di novel-novel populer itu.
Suatu hari, telepon bordering.
CEWEK: Dengan Mbak Reni?
AKU: Iya.
CEWEK: Saya dari toko buku Times Bandung.
AKU: Apa?
CEWEK: Saya dari toko buku Times Bandung.
AKU: Iya.
CEWEK: Mbak Reni, pesan buku Haruki Murakami? Bukunya yang ada cuma satu, South of Border, West of Sun.
AKU: Oh, jadi yang ada cuma satu doang?
....dst.
Bodoh banget kan. Udah jelas-jelas kan si Teteh itu bilang kalo di antara tiga buku yang kupesan, hanya satu yang tersedia. Terus, kenapa juga aku ngomong, "Oh, jadi yang ada cuma satu doang?"
Sekarang aku ngerti kenapa penyiar-penyiar TV acap kali menanyakan hal bodoh, misalnya: hal yang sudah dijelaskan narasumber. Ternyata, itu karena mereka gak tau gimana harus menindaklanjuti informasi yang baru aja diberikan. Akhirnya, keluarlah pernyataan/pernyataan yang tidak perlu. Seperti yang kuucapkan.
Berkat kebaikan hati seorang teman, aku berkesempatan ikut ngobrol-ngobrol bareng Hari Kunzru. Padahal, acara ini khusus undangan...cenah. Makasih ya, Na. Jadi, gak enak. (Atau malah enak?! ;p)
Singkat cerita, Pak Kunzru ini teh penulis berkewarganegaraan Inggris. Ibunya orang bule Inggris dan bapaknya orang India asal Kashmir (kayak Katrina Kaif nggak sih?!). Melihat latar belakangnya, gak aneh ketika kemudian dia penasaran dengan konsep "identitas", "ras", "kemurnian", dan sebangsanya. (Tumbuh besar sebagai anak berdarah "campuran" di wilayah konservatif kota London tidaklah mudah; kayaknya sih gitu.) Dan jadilah dia pengarang yang mengeksplorasi tema seputar identitas dalam novel-novelnya.
Dan karena latar belakangnya seperti itu, wajar kalo Pak Kunzru lebih tertarik dengan identitas transnasional--sesuatu yang mempersatukan semua orang, gak peduli di mana dia tinggal, apa keyakinannya, apa warna kulitnya, dsb. Oke lah, Pak, saya mengerti maksud Anda. Kita memang beda-beda, tapi terus kenapa? Maksud Anda begitu, kan?!
Nah, aku sendiri tidak pernah gelisah gara-gara "identitas", seandainya yang dimaksud "identitas" di sini adalah label yang dilekatkan seseorang pada dirinya, penyama sekaligus pembeda. (Misalnya: saya Muslim, jadi saya sama dengan orang-orang yang shalat dan mengaji dan mengimani Allah sebagai satu-satunya ilah, tapi saya gak sama dengan orang Kristen dan Hindu dan Buddha.) Mungkin karena aku tinggal di tengah-tengah masyarakat yang relatif homogen. Mungkin karena slogan Bhinneka Tunggal Ika sudah melekat dalam pikiranku (Sunda, Jawa, Batak, Minang,Bali, Sasak, Banjar, Dayak, dsb gak jadi soal). Mungkin karena aku bukan anggota kelompok minoritas yang terus-menerus dipertanyakan ke-Indonesia-annya.
Yang lebih mengusik pikiranku adalah "identitas personal" , kalo yang seperti itu memang ada. Siapa aku sebenarnya? Apa yang membuatku unik sebagai individu? Apa yang membedakanku dengan manusia-manusia lain? Tahu kan, kayak gen atau sidik jari atau sidik retina, tapi lebih menyeluruh. Harap dimaklumi, aku memang individualis (baca: antonim "kolektivis", bukan antonim "egois"). Aku bener-bener ngeri waktu membayangkan diriku sebagai makhluk yang keberadaannya di dunia ini tergantikan.
Ngalor-ngidul sepanjang ini, apa sih maksudku? Entah ya. Tapi, inilah yang kuyakini. Identitas adalah sesuatu yang kita pilih, titik. Dan manusia senantiasa tercabik-cabik antara keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok dan keinginan untuk menjadi istimewa. Gitu deh.
Judul buku ini--A History of the World in 10.5 Chapters--mungkin akan membuat orang terkecoh. Mendengar kata "sejarah", yang terpikirkan biasanya adalah peperangan, penaklukan dan penindasan, revolusi, penguasa egomaniak, dan semacamnya. Kalo emang yang itu yang kamu mau, silakan cari buku lain.
Dalam novel yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Sejarah Dunia dalam 10,5 Bab ini (diterbitkan KPG dan diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Arif Bagus Prasetyo), cerita yang dikisahkan dalam buku hanyalah "kejadian sehari-hari". "Peristiwa-peristiwa dahsyat" sepanjang perjalanan waktu--banjir besar, gempa, kecelakaan kapal, pembajakan, kematian, dll--kemudian sekadar menjadi latar belakang, bukan fokus cerita. Meskipun gak lumrah, hal ini patut direnungkan. Coba aja pikir, ketika kita menilik "Sejarah", kenapa yang dikedepankan selalu "sejarah kekuasaan"? Selalu dinasti ini digulingkan oleh dinasti itu, atau kerajaan ini digantikan oleh kekaisaran ini digantikan oleh kesultanan ini, dsb. Kenapa bukan "sejarah seni" atau "sejarah ilmu" misalnya? Nah, buku ini mendobrak pakem "Sejarah" sebagai "sejarah kekuasaan".
Para pelakon dalam buku ini pun "cuma" orang-orang biasa. Maaf, maksudku makhluk-makhluk biasa--mengingat sekawanan ulat kayu juga tampil sebagai pelakon. Ulat kayu mengisahkan derita para hewan di Bahtera Nuh dalam bab 1, "Penumpang Gelap", dan menghadapi tuntutan ekskomunikasi dari Gereja Katolik pada bab 3, "Perang Agama". Barnes seakan-akan hendak menegaskan, lagi, bahwa kita semua adalah pelaku sejarah. Yang kisah hidupnya layak dituturkan bukan hanya raja, kaisar, sultan, panglima, dan pemimpin pemberontakan. Siapa tahu rakyat jelata lebih patut diteladani daripada tokoh-tokoh berkuasa dan berpengaruh itu.
Tapi, jangan salah paham. Barnes tidak semata-mata menggugat "sejarah" karena dia ingin menggugat "Sejarah". Sebetulnya "kesadaran kolektiflah" yang digugatnya, kayaknya sih. Ini tercermin dalam "Parentesis" (bab 8,5). Dia mengoceh panjang lebar tentang cinta, dan bagaimana pada akhirnya itulah yang harus kita percayai--juga kehendak bebas dan kebenaran objektif. (Tapi, kenapa harus cinta? Mungkin karena "cinta" lebih mudah dipahami daripada "kehendak bebas" dan "kebenaran objektif"? Mungkin bagi Barnes "cinta" cuma alat untuk menyampaikan maksudnya, sama seperti "Sejarah"?)
Kalau disimpulkan, kira-kira inilah inti kisahnya: Pada akhirnya, kita sendirilah yang mesti memutuskan apa yang kita yakini, karena memang kita memilih untuk meyakininya, bukan karena orang-orang lain berpendapat itulah yang benar dan itulah yang semestinya kita yakini (intinya mah, hindari taklid buta). Mengutip kata-kata Pak Amir, dosenku semasa kuliah, "Sesuatu yang salah, walaupun diyakini kebenarannya oleh semua orang di dunia, tetap saja salah."
Catatan: Cuma pingin memperjelas. "Sejarah" (dengan "S" besar) berarti sejarah kekuasaan, sejarah yang lazimnya kita pahami, sejarah yang diajarkan secara akademik. "sejarah" (dengan "s" kecil) berarti perjalanan hidup setiap makhluk--biasanya manusia, tapi tidak selalu--secara individual atau keseluruhan, di dunia ini.
Bacalah The Winner Stands Alone, niscaya kita gak bakal memandang kaum elit yang banyak duit, berkuasa, dan terkenal seperti dulu lagi. Aku memang percaya bahwa uang, kekuasaan, dan ketenaran bukan jaminan kebahagiaan. Ketiganya pun bukan hal terpenting di dunia. Tapi--mungkin sama kayak sebagian besar orang--aku meyakini bahwa barang siapa memiliki salah satu saja dari ketiganya, kalo gak bisa semuanya, dia bebas ngapain aja. Tapi ternyata, ketiganya bisa mengurung seseorang, sama seperti kemiskinan absolut. Atau begitulah kata Paulo Coelho.
Kejadian-kejadian dalam novel ini berlangsung dalam waktu satu hari saja. Berbagai macam orang dari berbagai belahan dunia--aktor dan aktris, sutradara, produser, perancang busana, model, pengusaha, polisi--dipersatukan oleh ajang akbar yang disebut Festival Film Cannes. Mereka juga dipersatukan oleh hal-hal yang sama: kekayaan, kekuasaan, ketenaran. Sebagian tokoh udah kaya/berkuasa/tenar, yang lainnya mendambakan kekayaan/kekuasaan/ketenaran.
Nah, dalam novel ini kita dihadapkan kepada suatu paradoks. Atau mungkin bukan paradoks, tapi perbedaan antara harapan dan kenyataan.
Orang-orang biasa--seorang aktris medioker, sutradara muda, dan polisi yang bosan, misalnya--berharap bisa tersohor karena memang itu cita-citanya, karena pingin mengubah masyarakat, karena merasa layaklah dirinya mendapat apresiasi sesekali (siapa tau bisa naik jabatan). Seakan-akan mereka akan puas dan bergembira ria setelah harapan ini terwujud.
Nyatanya, para anggota Superclass--orang-orang kaya/berkuasa/tenar itu-- gak memperoleh kepuasan dari situasi mereka. Di saat mereka udah punya segalanya, mereka malah waswas karena gak mau kehilangan kekayaan/kekuasaan/ketenaran mereka. Maka muncullah orang-orang gila kerja dan manusia-manusia pecandu operasi plastik/suntik Botox/sebangsanya dan pengidap depresi. Pencapaian mereka akhirnya menjadi pengekang, bukan sekadar alat untuk mencapai kebebasan, apalagi sumber kebahagiaan.
Selain memaparkan kepalsuan kaum elit, novel ini juga mengemukakan satu topik yang sering muncul dalam karya-karya Coelho: impian, dan seberapa jauh kita rela berkorban demi mencapainya. Demi tujuan yang (menurut kita) baik dan mulia, layakkah kita melakukan apa saja? Bohong, misalnya? Atau mungkin meniduri produser film? Atau jadi simpanan ama om-om atau tante-tante kaya? Bagaimana dengan membunuh?
Novel ini emang gak menggugah perasaanku sedahsyat The Alchemist, tapi kisahnya cukup "mengena". Kalo aja para manusia penggila selebritis yang jumlahnya semakin banyak di Indonesia membacanya, mungkin mereka bakal berpikir ulang soal kegandrungan mereka yang gak realistis itu. Tapi kayaknya sih mereka lebih suka nonton TV daripada baca buku....